Sumber

Periuk Cinta

Periuk Cinta — AI


Shinta, setiap orang dapat menahan lapar ketika upavasa. Seperti setiap orang dapat menahan rasa sakit saat jantungnya tertusuk shara. Akan tetapi, setiap orang ternyata tidak dapat menahan rindu.

Rindu merupakan palung yang memisahkan senyuman dengan periuk cinta, ia tidak bisa terobati tanpa anggur di dalam periuknya.


Di dalam kerinduan, terkadang sukma mencari pelipur lara di tengah kenangan indah yang terpendam pada relung hati. Senyuman yang pernah menghiasi wajah anggun menjadi kilas balik menyentuh, seakan-akan mengalir di dalam benak seperti arus anggur yang melumuri palung rindu. Setiap kata yang terucap dan setiap detik yang berlalu membentuk anggur itu, meresap di antara keheningan serta menghangatkan dinginnya kerinduan.


Namun, di tengah palung rindu yang dalam, seringkali kita menemui kehampaan yang sulit diisi. Terkadang, anggur di dalam periuk cinta sudah tidak mampu mengusir dinginnya kesendirian. Rindu itu menjadi sabuk pengikat yang tak kunjung lepas, dan senyuman yang terpisah semakin terasa seperti bayangan yang menjauh. Meski begitu, kita tetap memegang erat periuk cinta, berharap suatu saat senyuman itu akan kembali bersinar di tengah-tengah anggur yang mengalir dalam kerinduan yang mendalam.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!