Sumber

Kebahagiaan Terakhir



Aku kaca-kaca, Shinta. Ketika ku baca dalam sebuah kaca benggala, seorang anak kehilangan kaki, ayah, ibu dan kakaknya. Mereka semua wafat dalam sebuah kecelakaan. Lalu aku terpikirkan seorang Nabi bernama Muhammad yang sejak kecil di tinggal oleh ayah, kemudian ibunya menyusul. Mungkin ada tujuan mengapa kehidupan Muhammad sejak dini sudah di "setel" menjadi seperti itu, Shinta.

Layaknya kita semua patut bersyukur atas kehadiran kita di dunia ini, meski penuh tipu daya, tangis dan derita.


Lahir dengan segenap keluarga yang utuh adalah nikmat yang patut di syukuri, bahkan jika dengan berjalannya waktu semua keluarga dapat selalu berkumpul bersama meski itu setahun sekali.


Kendatipun hanya sebagian saja, rasa syukur tetap saja layak untuk di ucapkan dan di rasakan dengan kesadaran mendalam. Kaca benggala ini mengirimkan pesan kepada pembacanya bahwa kebersamaan yang kita punyai patut di syukuri sebab menjadi salah satu nikmat yang dapat di rasakan.


Demikian, banyak hal-hal yang setiap detik juga adalah gambaran pengingat syukur. Sebab kebahagiaan terakhir yang di miliki seseorang adalah syukur.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!