Sumber

Sitayana: Jalan Terjal Setiap Lorong Kehidupan

Buncis Hijau
Buncis Hijau
Shinta, pada akhirnya hal-hal yang dulu hanya di lihat atau di dengar oleh sepasang mata dan telinga ini, nantinya akan menjadi perjalanan panjang yang akan di laluinya. Apakah setiap hal yang telah berlalu menjadi pelajaran dan pengajaran, atau malahan setapak jalan ini akan menjadi ajang uji coba nyata untuk bersikap? Menggunakan masa lalu sebagai cermin atau menapaki pijakan sebagai metode ekspresi baru?

Namun, bukankah setiap jalan memiliki kubangannya masing-masing? Begitu pula kata Ki Amongraga dalam Centhini yang selalu aku kutip, bahwa setiap jalan lurus atau berkelok tetap memiliki kubangan? Sama saja, melihat masa lalu sebagai cermin, lantas bukan menjadi hal yang selayaknya di genggam? Sebab bisa saja kubangannya berbeda? Ah, ya, perjalanan ini membuka dan menulis lembaran baru untuk melengkapi masa lalu? Seperti ini, kan, hidup, itu?

Dalam sebuah peperangan, melangkah maju adalah mengantar kematian. Kendati demikian, berdiri di balik pintu rumah hanyalah bayang-bayang semu akan kemenangan, bukan? Mengharap tanpa tindakan tidakkah sama halnya pecundang yang meminta maaf pada batu? Padahal, di detik yang sama pilihan nyata adalah sama-sama mati.

Shinta, kelas-kelas kehidupan para Nabi saja, butuh 1% tindakan. Apalagi kelas-kelas sepertiku? Kelasaran.

Beberapa hari yang lalu, semesta mengirim sinyal melalui Alpha dan Beta, Shinta. Bahwa ketika sedang dalam rumah ibadah, gawaiku rusak. Meski aku tahu di sana ada loker, gawai itu tetap aku bawa di hadapanku. Mengapa? Sebab aku tahu bahwa jika aku letakkan di loker, gawaiku akan hilang. Namun, ketika aku taruh di hadapanku, seseorang tidak menerimanya dan malah menendang gawaiku tersebut. Ia lantas berkata layaknya orang bijak: bahwa beribadah dengan gawai di depannya ini tidak bagus, lebih baik gawai di letakkan di loker. Aku menurutinya untuk meletakkan di loker. Namun, setelah ibadah selesai, aku cek loker dan ya, gawaiku yang sudah malang itu hilang bersama harapanku yang telah sirna.

Inilah, buncis, Shinta. Sebagai gambar latarnya yang memiliki filosofi; melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan ketekunan. Tumbuh merambat namun kuat, tanaman ini mengajarkan pentingnya proses, kolaborasi, dan konsistensi untuk mencapai puncak kesuksesan. Dikutip dari Halodoc.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!