Nabi Muhammad Adalah Orang Jawa
Siapa sangka jika ternyata Kanjeng Nabi Muhammad patut diduga adalah orang Jawa? Karena cara penyampaiannya berbentuk sanepo-sanepo. Mungkin orang-orang barat dahulu mentertawakannya, seperti kenapa tidur sunnahnya miring ke kanan? Bukan itu saja, ternyata Nabi Muhammad patut diduga orang Jerman juga, tanah kelahiran Einstein. Sebab mengajarkan tentang teori relativitas waktu.
Eeh, bukan mengajarkan teori relativitas, karena jika klaim ini dipakai, artinya akan menggugurkan nama Einstein sendiri. Eeh, siapa tau juga jika sebenarnya Einstein termotivasi kalimat Iqro', kalau perbendaharaan kosa kata Jawa. Membaca itu tak harus dibuku, bisa dari apa saja, karena buku kan baru di temukan sekitar 2400an sebelum masehi? Hehehe. Tak hanya itu, memang dulu sudah ada tulisan? Lha wong orang-orang yang suka meletakan Mesir kuno dan Sumeria kuno di tingkat atas aja bahasanya pakai simbolisme, diukir menjadi relief-relief, dan lain sebagainya. Mungkin itu menjadi salah satu alasan mengapa anak kecil lebih cepat mengingat benda dari pada sastra, ehh, maksudku tulisan.
Bukanya tulisan termasuk benda? Bukan, maksudku, gambar. Bukanya gambar juga termasuk benda? Ahh, ada nggak sih yang tak ber-benda tapi memang ada? Ahh, terlalu lama bahas kesana kemari, jadi ini apa? Ya siapa tau saja Einstein tiba-tiba merasa harus meneliti tentang kebenaran Muhammad menuju langit? Bukankah sampai saat ini orang-orang barat selalu berjalan keluar? Bahkan mereka berhasil membenarkan teori yang mengatakan bahwa “...jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” Sebentar, ini kan bukan teori? Bukankah teori artinya pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi? Bukan, berarti ini bukan teori. Terus ini apa dong? Yaa, bisa saja ini adalah sesuatu yang membenarkan bahwa orang-orang barat memang berjalan keluar. Gitu aja, biarkan panjang × lebar tetaplah dipakai untuk menghitung luas persegi panjang, yang lainnya tidak perlu lah ya. Lha wong persegi panjang saja jika di iris bagian atas kanan & kirinya namanya sudah berubah jadi trapesium, sedangkan irisannya jadi segitiga siku-siku. Rumus menghitung luasnya beda lagi dong. Loh, kok jadi beda-beda gini sih? Jadinya kan orang kulit putih sering rasis ke orang berkulit hitam? Eemm, bukan gitu. Kan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu sebetulnya untuk saling mengenali, bukan saling menghina dan menyiksa? Betul nggak sih? Lho-lho-lho, tadinya mau nulis bahwa Kanjeng Nabi adalah orang Jawa, lha kok malah melebar kemana-mana. Ya sudah, bersambung sampai disini saja. Lagian yang baca juga cuma beberapa pasang mata saja. Heuheuheu. Sama semesta.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 4 Juni 2020.
Gabung dalam percakapan