Ponokawan: Membangun Kedaulatan Digital "Rumah" di Tengah Riuh Lokapasar

Isu bahwa potongan lokapasar semakin besar, ini membuat beberapa penjual menjadi gusar, Gong. Apakah benar demikian?
Lha yo gimana? Namanya juga numpang, kan, ya? Jangankan lokapasar, toko luring saja biaya sewa dari tahun ke tahun makin naik. Ini, kan, yang membedakan harga toko luring dan daring itu memiliki gap — diantaranya? Tentu saja di luar biaya promosi, gaji, dll. Toh, ya, siapa mau bakar duit terus? Pemodal ya mau untung lah, Gong, masa mau subsidi duit. Lha emange duite Mbahmu? Heuheuheu.
Duitnya, Mbahmu saja kadang juga jadi rebutan anak cucu. Eih.
Apalagi duit modal, yang niatnya ambil cuan. Gak cuan, gak makan, Bos! Makan siang gak ada yang gratis. Lha wong, wese-wese pom bensin saja yang konon sejak zaman Pak Erik di gratiskan, ada plang segede mata dinosaurus bertuliskan GRATIS, tetap saja bayar. Kalau tak bayar, siap-siap kena sinis. Iya kalau yang jaga manis, bisa di bawa pulang gulanya buat ngopi sambil mikirin nasib hidup ke depan, Gong. Perang kok gak rampung-rampung, dipikir nyawa kek mainan aja. Bukan cuma nyawa, ekonomi ya bisa keos lama-lama.
Isu potongan, abcxyz di lokapasar ini mengingatkanku pada tekadku beberapa tahun silam, Gong. Selain membangun sendiri sebuah merek, aku juga pengen membangun wadah jualan sendiri. Saat itu sih mikirnya; tak mungkin dengan harga yang sudah mepet kami bertarung di tempat yang sama dengan kompetitor kelas kakap. Meski kadang kelas lele, rusa, angsa, dll. Lha gimana? Jelas jualan di lokapasar itu bakal amsyong, harga di naikkan, bakal gak ada yang beli. Lha wong harga segitu saja, misalnya, orang masih mikir ada ongkir, dll. Hayoloh?! Apalagi merek tak terkenal, duh. Orang mikir rasanya pasti abang ijo, nano-nano, meski orisinalnya; mewah.
Oke, lah.
Konsepku kala itu jelas penjualan berbasis daring namun distribusinya terdesentralisasi. Kenapa harus daring? Aku selalu percaya bahwa zaman akan bergerak maju, bukan ke belakang. Jadi dengan membuat sampah sebanyak mungkin di internet, suatu saat nanti sampah itu akan berguna jika seseorang mencari informasi. Buktinya? Ku kasih nih, buktinya; kalau cari Kecap Prambanan gitu, misalnya, di internet. Situs yang menjadi top pencarian adalah...? Nah, coba lihat siapa yang nulis? Heuheuheu. Apalagi AI, AI yang pinter itu, juga, ngambil dari informasi situs yang ku tulis beberapa tahun silam ini, Gong. Gimana? Ya emang gak guna, gak ngefek di hari-hari itu, tetapi aku kan selalu percaya bahwa kebenaran menemukan jalannya sendiri, seperti air — Tao Te Ching. Eh, lha kok malah mau berfilsafat.
Tentu saja, proyeksiku di dunia maya ini bukan untuk sehari, seminggu dan sebulan. Kalau tolok ukurnya segitu, ya amsyong aku. Ini aja semua sumber daya ku pikirkan sendiri, Gong. Eh.
Jadi Digital Sales Analytics amatir itu menantang. Selain bertanggung jawab kepada diri sendiri, ternyata juga bertanggung jawab kepada metrik-metrik data, Gong. Tujuan awalku bukan untuk menjual barang, tetapi mengenalkan, menjaring ikan-ikan di lautan itu supaya kenal dan tahu; ini loh, ada Kecap Prambanan. Itu, saja, tidak lebih. Soal ada yang order, beli, bertakon, itu ku anggap bonus. Meski nyatanya, hingga kini kadang masih ada orang nyasar bisa jadi ngorder atau bertakon. Hahaha.
Iya, hingga kini, yang bahkan aku tak ngapa-ngapain lagi.
Dah, gitu saja, sementara, lah, Gong.
Hal yang bagus apabila beberapa orang atau perusahaan beralih membangun rumahnya sendiri. Seperti di jalanan kota yang kian ramai dengan kedainya. Mungkin, inilah peta perubahan selanjutnya yang harus di waspadai oleh para pemilik modal. Apalagi dengan kemajuan AI yang pesat, orang awam saja mampu membangun basis data dan dashboard yang ciamik. Apalagi yang memang senior di dunia tersebut? AI bukan lawan, namun kawan yang dapat di gandeng untuk berjalan.
Gabung dalam percakapan