Sumber

Sitayana: Kanyaka Tattwa



Shinta, banyak perempuan seumuranku atau di bawahku sedikit sering bercerita senada meski rumah-rumah mereka berjauhan. Dewasa kini, mereka takut mempunyai suami, sebab terlalu banyak cerita lelaki pemabuk, berselingkuh, bermain wanita, dll. Rupanya, beban mereka sepertinya bertambah sebab di zaman tatap maya ini, batas antara realita dan replika kian menipis. Artificial Intelligence bahkan mampu memproduksi wajah, mimik, gaya bibir dan suara yang mirip dengan manusia asli.

Kendati demikian, aku selalu mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan tak menciptakan satu bunga. Dia menciptakan berbagai bunga yang indah dan tidak setiap bunga yang indah tersebut berada di Tamansari. Tidak perlu takut, karena mutiara tetaplah menjadi mutiara meski jatuh ke dalam kubangan lumpur. Seperti setiap lelaki, tidak semua lelaki bajingan, karena terkadang lelaki menjadi tukang, pelayan dan abdi cinta, dll, dst. Cinta untuk mencintaimu seutuhnya.

Bukankah kita hidup dalam realita, Shinta? Tidak hidup dalam maya yang isinya di sesuaikan dengan kebiasaan kita, nang berjuluk algoritma? Atau malah ada suatu hal tertentu yang akhirnya menyetir kehidupan dan gaya bersosialita kita?
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!