Sumber

Pratinjau Ksatria Tanpa Pedang: Kebingungan Sosial (Bab II)

Setiap saat saya merenung dalam tabut kehidupan ini, sekali saya tidak pernah memikirkan banyak tentang apa persamaan hidup di luar sana. Karena selama ini bahwa saya selalu menentukan dan memastikan bahwa kondisi saya baik-baik saja. Seperti biasa bahwa orang lain tidak akan pernah mengerti maksud anda. Sekalipun itu adalah orang yang paling terdekat dengan anda.

Bukan suatu takdir untuk ini, namun manusia beratus juta tahun yang lalu telah menjadikan seperti ini adalah sebuah kebiasaan, budaya dan apalah artinya jika anda berseragam gagah berani bersuara lantang untuk mereka yang masih sama? ; ya, satu kebiasaaan dari dulu yang masih sama adalah tentang pembagian jatah dengan arogansi dan satu konspirasi tertentu. Sudah berlangsung cukup lama juga.

Ini adalah saat-saat di mana kehidupan semakin menua, beserta segala yang mendukungnya. Terkadang juga bahwa saya berpikir bahwa setiap yang telah kita lihat, dengar dan menjadi angin lalu. Semua itu akan mengarah kepada kita entah beberapa waktu ke depan; namun itu pasti. Bahwa saya telah mempelajari teori ini semenjak saya masih kecil. Dan akan selalu terjadi dan berulang.

Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan itu adalah sebagian dari takdir saya untuk menentukan jalan kehidupan ini, tidak sedikit yang menghakimi saya dengan banyak ke arah-arah yang pragmatis, seperti sudah saya ceritakan di buku saya volume yang lalu. Jika anda punya waktu pun bisa di pahami dalam kehidupan saya bahwa hal itu sering terjadi.

Dengan berbekal seadanya, ungkapan saya untuk selalu bersikukuh dengan hati, jiwa dan pikiran saya masih terbawa hingga saat ini, meski telah banyak berubah karena telah banyak di tempa di tempat-tempat yang menyeramkan dan dalam kehidupan yang mengerikan, selama itu pula saya tidak pernah takut dengan semua. 

Ya, tingkah-tingkah para penjilat akan selalu menuruti apa yang mereka inginkan. Terkadang saya merasa kasihan dengan mereka yang ingin selalu berbuat seperti itu, namun tidak ada pilihan, bahwa ini adalah jalan hidup kita, meski kita; namun diri sendiri yang akan mengawal menuju destinasi yang telah di tentukan sebelumnya. Saat-saat para pembaru datang dengan keyakinannya bahwa mereka bisa membawa kehidupan yang lebih baik, mungkin tidak sedikit bahwa kebiasaan itu mulai tampak; mulai mencibir, memaki dan masih banyak lagi mentalitas-mentalitas mereka yang masih sama, tampak seperti melanjutkan perjuangan moyangnya melawan waktu.

....


Teks asli di publikasikan pada tanggal 23 April 2016.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!