Aku dengan suhu bagaikan butiran debu.
Ya, gimana ndak, Gong.
Sapi betina itu yang paling panjang di antara bait-bait puisi ia lahap habis tanpa ampun. Aku yang cuma modal keikhlasan merasa tak de ape-ape la aku ni.
Cuma, mungkin, ia adalah do'a-do'aku di masa lalu juga ya, Gong, yang mungkin aku sendiri sudah lupa kapan berdo'anya. Bukankah Tuhan Maha Guyon? Sering mengijabah do'a saat waktunya sudah tepat? Ya, itu kenapa jadinya kadang berada di fase "Sebenarnya Tuhan mendengar do'a-do'aku tidak, sih? Kenapa tidak dikabulkan?"
Ada suatu nikmat yang tak bisa di jelaskan, Gong.
Ah, inilah kata-kata. Karena kata-kata itu terbatas, ya, kan, Gong? Soal nikmat, memang sudah seharusnya kita selalu bersyukur, mensyukuri segala nikmat Tuhan yang telah diberikan. Bukankah begitu, Gong? Karena dalam hidup, jika kita selalu merasa "kurang" terus, ya tidak akan pernah ada habisnya. — Tetapi ya bukan berarti tidak berusaha untuk menjadi lebih baik atau bukan berarti terus tidak berusaha untuk merubah sesuatu ya, Gong (ke arah yang lebih baik).
"Seandainya anak Adam (manusia) memiliki satu lembah penuh dengan emas, niscaya ia akan menginginkan lembah yang kedua. Dan seandainya ia memiliki dua lembah, niscaya ia akan menginginkan yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima tobat bagi siapa saja yang bertobat."
— Nabi Muhammad ﷺ
Soal nikmat-nikmat.
Mungkin, ia juga tak harus berupa materi yang kentara oleh mata, ya, Gong. Tetapi ia bisa juga berbentuk kasih sayang yang keduanya adalah akar dari cinta. Misalnya, seseorang merasa tenang, itu saja sudah termasuk kenikmatan.
Bersyukur, mensyukuri nikmat itu penting, Gong.
Karena kita akan hidup bersama selamanya, bukan hidup bersama sementara (cara memandang kesetiaan dalam sebuah hubungan). Sebab kalau tidak pandai bersyukur, nanti akan tercebur. Iya, kalau kubangannya dangkal, lha kalau dalam? Susah keluar, kan, ya? Begitu pula dengan berpasangan, alih-alih melihat ini dan itu, belajar mensyukuri yang sudah ada adalah salah satu contoh dan cara mengelola ego manusia secara mandiri. Kembali lagi bahwa ini perjalanan panjang, bukan perjalanan sementara yang batas mulai serta selesainya seratus meter saja.
Tuhan, siramilah cinta kami berdua. Seperti Engkau tak henti menyirami gersangnya tanah di dunia. Di mana ia tak hanya akan memunculkan benih-benih cinta yang lain, tetapi juga dapat mengantarkan ke surga.
Gabung dalam percakapan