Langgam Ma
Dia
Dia yang pernah muda namun tenggelam dalam palung kehidupan
Dia menganyam peluh dan beralas duri
Dia berbaju mentari nan berirah hujan
Inilah cerita tentang dia
Dia
Dialah martir tempur kehidupan keluarga
Saat banyak saudaranya masih ingusan tak dapat berdiri di atas kaki mereka
Ketika jua saudaranya yang lain terkurung dalam tempurung
Dia keluar menjemput mimpinya
Inilah awal mulanya tentang dia
Dia
Dia tak kenal lelah ataupun letih
Meski panas menerpa, hujan melanda dan badai petir bergema
Dia tak pernah mundur ataupun mengendur
Dia tak juga berpangku tangan pada takdir
Dialah api yang menyala ketika malam menyelimuti
Dia
Dia mengajak untuk merangkak dari nestapa
Dia membuka tangan kepada sesama
Dari tangannya ia menenun perlindungan, memaksa panas tunduk dan dingin tuk tak lagi mampu menyentuh kulit
Dari tangan yang lain ia menidurkan rasa lapar dan membujuk dahaga agar tak lagi bertamu
Dia
Dari padanya tempat berharap hidup
Kasihnya merajut jaring-jaring kecukupan, memastikan tak ada celah bagi kekurangan untuk menyelinap masuk
Meski ia sendiri bersusah payah mengusir rasa lapar, haus dan kantuk
Perduli dan tak perduli, dialah lilin dalam kegelapan
Membiarkan dirinya sirna di telan masa tuk menerangi sesama
Dia
Zaman berganti dan musim tak pernah berhenti
Tangan yang dahulu ia suapi, kini menjelma menjadi belati
Mereka robohkan tanpa belas, saat kakinya sudah tak tegak dan tangguh tuk berdiri
Dia
Kini ia hanyalah cerita dan puing-puing
Ia ditinggalkan dalam sepi, sunyi tanpa bunyi
Tak sedikit yang menanggalkannya dengan caci maki
Padahal, mulut itulah yang dahulu ia suapi

Gabung dalam percakapan