Kidung Ma
Di bawah rembulan perak yang menggantung di dahan persik.
Seorang wanita berdiri, diam sekuat akar pegunungan.
Jemarinya menenun sutra dari helai-helai waktu yang luruh.
Mengubah dinginnya malam menjadi hangatnya jubah bagi keluarga.
Ia adalah bumi yang memikul beban tanpa pernah mengeluh.
Mengikuti jalan yang tenang, mengalir seperti sungai ke muara.
Seorang wanita berdiri, diam sekuat akar pegunungan.
Jemarinya menenun sutra dari helai-helai waktu yang luruh.
Mengubah dinginnya malam menjadi hangatnya jubah bagi keluarga.
Ia adalah bumi yang memikul beban tanpa pernah mengeluh.
Mengikuti jalan yang tenang, mengalir seperti sungai ke muara.
Rambutnya yang hitam kini bersalin rupa menjadi salju Jayawijaya.
Tanda dari ribuan fajar yang ia renggut demi menyalakan tungku.
Setiap garis di wajahnya adalah kitab suci tentang perjuanhan dan pengorbanan.
Di mana tinta kasih sayang ditulis dengan darah dan keringat yang terukir menjadi prasasti.
Ia mengajar budi pekerti bukan dengan kata-kata yang riuh.
Melainkan dengan punggung yang membungkuk, menanam benih kebajikan di jiwa yang rapuh.
Tanda dari ribuan fajar yang ia renggut demi menyalakan tungku.
Setiap garis di wajahnya adalah kitab suci tentang perjuanhan dan pengorbanan.
Di mana tinta kasih sayang ditulis dengan darah dan keringat yang terukir menjadi prasasti.
Ia mengajar budi pekerti bukan dengan kata-kata yang riuh.
Melainkan dengan punggung yang membungkuk, menanam benih kebajikan di jiwa yang rapuh.
Wahai Ibu, engkaulah kebajikan—kemanusiaan yang paling sejati.
Penjaga altar harmoni di tengah badai dunia yang tak pasti.
Saat kelaparan datang, engkau adalah mangkuk yang selalu terisi.
Meski perutmu sendiri hanya mendekap angin nan sepi.
Engkau memelihara pohon keluarga agar menjulang ke langit tinggi.
Sambil memastikan akar-akarnya tetap mencium bumi dengan rendah hati.
Penjaga altar harmoni di tengah badai dunia yang tak pasti.
Saat kelaparan datang, engkau adalah mangkuk yang selalu terisi.
Meski perutmu sendiri hanya mendekap angin nan sepi.
Engkau memelihara pohon keluarga agar menjulang ke langit tinggi.
Sambil memastikan akar-akarnya tetap mencium bumi dengan rendah hati.
Meski emas di peti bisa habis dan permata bisa renyak.
Kebajikanmu adalah pusaka yang takkan lekang oleh zaman yang bergejolak.
Sejauh mana pun sang anak melangkah meniti jejak.
Do'amu adalah kompas yang menjaga kami agar tidak tersesat atau berpijak retak.
Hutang budi ini setinggi langit, sedalam samudera yang luas.
Satu masa hidup takkan cukup untuk membalas kasihmu yang tulus lagi ikhlas.
Kebajikanmu adalah pusaka yang takkan lekang oleh zaman yang bergejolak.
Sejauh mana pun sang anak melangkah meniti jejak.
Do'amu adalah kompas yang menjaga kami agar tidak tersesat atau berpijak retak.
Hutang budi ini setinggi langit, sedalam samudera yang luas.
Satu masa hidup takkan cukup untuk membalas kasihmu yang tulus lagi ikhlas.
Gabung dalam percakapan