Sumber

Kakas Ing Ates Lamun Urip Iku Urup Dene Timun Mungsuh Duren



Bagong.
Minggu kemarin, tanpa di rencana dan sebenarnya terencana gegara kuda besiku berbunyi aneh setelah pijetan. Sebelum pijetanpun, bagaikan untuk menyusuri Bukit Barisan di Sumatera itu seperti batuk-batuk.

Sampailah Minggu kemarin aku mengajak ke suatu tempat sekalian tes berjalan kuda besiku ini. Kuda besi yang punya banyak sejarah dan cerita dalam hidupku, Gong. Ini kenapa keponakanku yang selalu ngomong: jual saja. Selalu aku tolak mentah-mentah. Gimana-gimanapun, hidupku ini tak terlalu jelek soal sastra.

Pagi menjelang siang ku tunggangi ia menembus setiap jalanan. Sekitar setahun lebih sudah aku tak menyusuri jalanan ini. Tempat dahulu mengukir harapan hidup dan menenun masa depan.

Tak lupa, mampir ke suatu pusat belanja. Tempat di mana tangis dan tawa tak bisa di bedakan, kan, Gong? Tak hanya itu, ternyata juga tempat untuk amarah dan kasih sayang juga tak bisa di bedakan. Mungkin, dalam cinta juga sama, Gong. Terlalu mencintai beserta posesif ini juga tak bisa di bedakan. Heuheuheu.

Aku yang dari gubuk kecilku ingin memakai kaos oblong dan celana pendek itu-pun untungnya tak jadi. Hanya saja, kaos oblongnya jadi beserta celana dengan kantung yang banyak di kanan-kiri. Untung saja.

Sesampai di tempat tujuan, kagetku bukan kepalang, Gong. Ini bukan seperti rumah pada umumnya. Tetapi lebih seperti sebuah sekolah kehidupan. Aku sesekali meyakinkan belahan jiwaku: apakah ini benar rumahnya? Dengan jawaban tandas ia selalu berkata: iya, benar. Waaah, hatiku carut marut seperti curut di kejar-kejar kucing, Gong. Untung saja.

Dan ya, inilah akhirnya. Ini memang bukan rumah biasa, Gong. Untung saja, untung saja, bahwa aku tak jadi pakai celana pendek, meski ini tergolong celana cingkrang. Namun masih tetap pantas saja, digunakan.

Jika di tarik ke belakang, sudah sering aku katakan dengan jelas bahwa "Kehidupan yang akan aku lalui di masa depan, saat ini Tuhan sudah memberikan petunjuk beserta gambarannya." Ya, termasuk ini, Gong. Jalanan ke rumah ini terletak tak jauh dari sebuah rumah seorang Habib yang selalu menjadi tempat berguru kawan lamaku. Bahkan, sebelum aku bertemu kawan lamaku ini, aku juga sudah jauh menyusuri jalanan ini karena takdir pernah menuntunku menjadi bagian dari cerita indah di suatu tempat sekitaran sini. Kata di atas, sudah sangat sering aku katakan kepada orang-orang dekatku, kan, Gong? Termasuk ya, Petruk dan Gareng. 

Ngomong-ngomong, inilah salah satu suguhan yang selalu di buka dengan: apa adanya. Dalam pikiranku; ini mah, bukan apa adanya. Semua ini istimewa. Apa coba filosofinya, Gong?

Pepaya ini mempunyai pesan: jadilah pribadi yang bermanfaat secara total.

Timun ini juga mempunyai pesan: jadilah pribadi yang mampu meredam amarah.

Kakas ing ates lamun urip iku urup dene timun mungsuh duren.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!