Bukan Menghadap Kepada Orang Yang Berprasangka Kepadamu
Siang tadi saat istirahat kerja aku bertemu dengan sahabatku. Di perjalanan ia sempat bertanya kurang lebih "Kamu kerja tidak seperti orang kerja ya? Pakai sendal jepit." aku jawab singkat "Ini kan sedang keluar, beda dong kalau di dalam. Lagian cuaca hari ini agak panas batinku."
Sampai di tempat tujuan aku teringat suatu saat pernah di tegur oleh sahabatku yang lain hanya karena ingin pergi ke mall pakai kaos oblong, celana kolor dan sendal jepit. Dia bertanya kepadaku "Ehh, kamu gila ya. Mau ke mall kok gayanya seperti itu." jawabanku sekenanya saja "Terus aku harus pakai yang seperti apa? Seperti orang-orang itu? Aku tidak yakin bahwa ia dengan tulus memakai pakaiannya. Semua orang pasti ingin menarik perhatian, malu jika pakaiannya biasa-biasa saja atau bisa jadi nanti di bilang ndeso, lain-lain lah. Kamu juga pernah lihat kan, kalau aku akan menghadap Tuhanku? Hanya bermodal sarung, kadang baju oblong, peci aja kalau ingat. Pakai baju yang keren, mungkin waktu lebaran saja (hahaha). Lalu untuk apa aku menganggap diriku atau orang-orang yang akan melihatku nanti lebih spesial di banding saat aku menghadap Tuhanku? Bukankah kamu tiap pergi ke gereja juga akan menghadap Tuhanmu? Bukan menghadap orang-orang yang akan berprasangka kepadamu? (hahaha...sudahlah ayo berangkat, nanti aku tunggu di depan saja).
Teks asli di publikasikan pada tanggal 16 April 2018.
Gabung dalam percakapan