Sitayana: Pemimpin Menangis Di Hadapan Dirinya Sendiri



Tepat di malam Idul Fitri, aku menunggangi kuda besiku menembus jalan besar dan gelapnya malam, Shinta.

Meski gelap, jalanan tak pernah sepi oleh segenap rindu. Bahkan, gerobak-gerobak terisi penuh oleh bara api yang menyala-nyala. Selain itu, langit juga di hujani oleh kemeriahan tanda kemenangan telah tiba.

Namun, yang menang ini sebenarnya siapa, Shinta?
Apakah orang yang berpuasa? Apakah orang yang berpuasa secara zahirnya? Atau yang berpuasa batinnya? Atau yang berpuasa keduanya, yaitu zahir dan batinnya? Atau yang seperti apa? Bukankah terdapat pepatah; bahwa mengalah bukan berarti kalah? Artinya, mengalah terkadang juga adalah kemenangan, juga, kan, Shinta? 

Aah, ya sudah, lah.
Ramai-ramai ini bisa di nikmati akibat negeri yang aman, tentram dan damai, bukan? Tetiba pikiranku melayang-layang jauh melewati batas negara, Shinta. Sebab organisasi sayap kanan nasionalis religius ini memiliki basis masa yang gegap gempita. Coba, andaikan garda utamanya di persenjatai, ini sudah cukup untuk beralih fungsi menjadi organisasi paramiliter yang dapat membuat seorang lelaki kencing sambil berlari.

Bukankah begitu keadaan negeri-negeri di sekitaran semenanjung laut merah dan laut persia itu, Shinta? Untungnya, bangsa ini masih cukup kuat berdiri di atas terpaan badai dan hantaman guntur. 

Kendati demikian, bagaimana kalau ternyata keamanan dan kedamaian negeri ini adalah akibat dari pembayaran mahal oleh bangsa ini sendiri, Shinta? Tentang apa? Ya, tentang kesepakatan antar petinggi negara, meski terkadang oleh kacamata awam di lihat sebagai kebodohan semata. Siapa tau bahwa ternyata itulah jalan pedih nan perih yang harus di rasakan untuk di tukar dengan kedamaian sejauh ini?

Bagaimana tidak, Shinta?
Coba ingat-ingat beberapa waktu lalu, terdapat presiden negara saja dapat di culik oleh negara lain tanpa perlawanan berarti. Ini contoh terdekat, Shinta. Sedangkan banyak contoh lain yang "ternyata" beberapa negara sengaja di goyang oleh negara lain dengan berbagai isu karena negara tersebut tidak patuh dan tidak tunduk untuk di eksploitasi kekayaannya? Mengerikan, kan? Hayo, gimana kalau ternyata, negara kita, pemimpin kita, sebenarnya di atas sana mengalami perlakuan serupa? Hancur sama sekali atau damai ini tetap terjaga dalam luka nan lara? 

Pemimpin tak menangis di depan rakyatnya, Shinta. Akan tetapi ia menangis di hadapan dirinya sendiri.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa