Ponokawan: Menjadi Terduga

Menjadi terduga ini memang sangat menyesakkan, ya, Gong. Gimana ndak? Teman-temanku pada menduga aku menikah. Sampai kadang-kadang beberapa orang harus memastikan lagi jari jemariku, apakah ada naga melingkar di sana?

Oh! Maksudku; adakah cincin yang melingkari salah satu jari-jariku? Di saat yang sama kadang aku juga senyam-senyum sendiri, lha wong memakai perhiasan bagi seorang lelaki itu, boleh, sih. Eh.

Eh, ya boleh. Asal selain emas. Toh, percincinan itu sebenarnya bukan budaya nusantara, eh. Eh, terus budaya mana coba? Mesir kuno, kali, ya, yang tersohor akan Cleopatranya, itu, iya, gak sih? Iya-in, aja, sih.

Konon melambangkan keabadian. Ini kenapa, aku kalau man-temanku menikah, pasti isi amplopnya ada nilai 8-nya, coba tebak, kenapa? Yak, benar, ketidakterbatasan. Kalau budaya Tiongkok sih, kemakmuran, seingatku. Yo, maklum, lah, aku kan bukan anak Tionghoa. Boro-boro, lha wong budaya Jawa aja aku ngah-ngoh. Padahal sok ngaku-ngaku Wong Jowo. Kayak siapa? Iya, kayak kamu juga, sok ngaku-ngaku. Hahaha. Eh, bukan, salah, iya, salah satunya. :-P.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!