Ki Demang & Murid-muridnya #34
Sosial media.
Beberapa kali pertemuan mata pelajaran TIK di laksanakan, yang paling akhir adalah mengenai tata cara mendaftar dan berkirim surat elektronik atau yang kini di kenal dengan email.
Budi, made, ayu dan putri sudah tidak asing lagi dengan komputer dan beberapa aplikasi atau fitur di dalamnya, terakhir mereka akan mencoba bersama-sama untuk mendaftarkan akun facebook (FB) menggunakan email yang mereka buat beberapa hari sebelumnya.
"Asyik ya, sebentar lagi kita dapat saling terhubung" ayu kegirangan. "Iyaa doong, enak kan nanti kita juga dapat saling berbagi momen" putri menjawabnya. Akan tetapi ini bukan hanya mempermudah hubungan mereka berempat, ini seperti lahir kembali di suatu dunia baru. Selain dapat berteman dengan orang-orang di sekitar dan yang telah di kenal, platform itu juga memungkinkan siapa saja untuk berkomunikasi antar negara.
Hari berlalu dan mereka berempat masing-masing sudah mempunyai akun FB sendiri, postingan dan unggahan juga tidak lupa mereka lewatkan untuk pertama kali mengenal salah satu jejaring sosial tersebut.
Suatu hari putri tampak membuat postingan seperti ini “Ya Tuhan, semoga hari ini aku dan keluarga baik-baik saja. Amin.”
Postingan yang baru saja ia buat itu ternyata di banjiri banyak komentar, tidak terkecuali adalah komentar dari ketiga temannya. Bahkan ketiganya terlihat bercanda saat menangapi postingan putri.
“Iya, sayang. Tidak perlu kamu bersedih, Aku selalu di hatimu, selalu di dekatmu dan menjagamu.” Balas budi.
“E..ehm..Iya sayang, tinggal kau panggil namaKu. Senantiasa Aku selalu siap membantumu.” Ayu tidak mau kalah.
“Mungkin saat ini Aku bukan kekasihmu, yang dapat memiliki hatimu secara utuh. Karena Aku selalu kau kait-kaitkan hanya dengan ayu saja. Padahal setiap waktu dan setiap saat Aku selalu di sisihmu. Made.” Balasan dari made ini langsung di balas seketika oleh putri.
“Nanti ada yang marah loh haha.”
Di balas lagi oleh ayu “Aku tidak akan marah, karena rasa marahku telah bercampur bahagia melihat kedua temanku terlihat bermesraan hahaha.”
“Seperti biasa, bahwa wanita bukan soal yang di katakan atau yang ia tulis. Ini adalah tentang isi hati. Awas hati-hati dengan hati...hahaha” Made melanjutkan komentar teman-temannya tersebut.
Sangking asyiknya berbalas komentar di salah satu psotingan putri tersebut hingga lupa bahwa waktu semakin larut malam.
***
Pagi menjelang.
…
Seisi kelas bergemuruh saat gerombolan budi, made, ayu dan putri datang.
“Wiih, tumben. Teman-teman kita tidak seperti biasanya..” Nada kagum terlontar dari bibir putri yang memperhatikan sekitar kelas. Ini memang tidak seperti biasanya, karena biasanya teman-temannya akan sibuk bermain atau sekedar baca-baca buku di halaman dan berbagai tempat favoritnya masing-masing. “Adakah yang salah dengan penampilan kita pagi ini put?” Sikap ayu mulai keluar…
“Tidak ada kok.” Tanpa bosa-basi made menimpali ayu, padahal dari tadi ia berjalan paling belakang. “Hah, ini mereka lihatnya dari depan madeee. Aduuh.” Kegenitannya juga langsung keluar di pagi ini.
Budi berlari dan berbalik lalu menggelengkan kepala sambil berucap lirih “Tidaak ada.”
Rasa penasaran semakin menjadi saat mereka berempat mulai mendekati pintu kelas. “Saatuu..duaaa..tigaaa! Inilah artis kita tadi malam teman-teman” Seisi kelas berteriak dan bergemuruh. Keempat orang tadi kebingungan dengan apa yang di katakan teman-temannya tersebut, antara tidak mengetahui, malu ingin bertanya, rasa penasaran, semua menjadi satu dalam pikiraan mereka. “Hey...hey..hey, ada apakah ini?” Budi yang selangkah di depan mencoba bertanya pada seisi kelas. “Tidak ada apa-apa sayang” Salah satu teman membalas seolah sedang menyindir. “Sayaaang?” Putri dan ayu saling bertatapan. Made menggayuh tangan ayu dan berkata “Apakah kita cocok?”. “Cocok sekali….” seisi kelas kompak, hanya budi dan putri yang terperangah dengan jawaban itu.
“Nanti ada yang cemburu loh...” Suara dari belakang lirih.
Akhirnya mereka berempat mengetahui maksud teman-temannya tersebut.
“Oalaah itu….” Giliran mereka yang menjawab dengan kompak dan budi pasang badan karena merasa berkomentar paling awal di antara ayu dan made. “Itu kita sedang bercanda teman-teman, tidak ada yang perlu di lebih-lebihkan.” Dari belakang kembali bergemuruh, saat ini adalah siulan yang mereka ekspresikan. “Bercanda apa bercanda”? Salah satu teman yang berdiri di dekat made berkata. Lalu made tampak mendekati putri. “Bagaimana dengan sekarang teman-teman, apakah kita cocok?” Ayu melihatnya pun terlihat biasa-biasa saja, walau mungkin salah satu pengagum made ini hatinya sedang teriris-iris menjadi seribu bagian. Teman-temannya pun seketika langsung memalingkan wajahnya kepada ayu, akan tetapi mereka terkejut. Malah ayu membalas mereka dengan sebuah senyuman yang menandakan ia sedang baik-baik saja. “Haaaa???” Wajah kebingungan terlihat dari seisi kelas menggantikan keempat wajah yang sedari tadi di buatnya bertanya-tanya.
“Hahaha” Suara yang khas itu berdentum dan beberapa siswi berjingkrak, itu adalah suara made bila ia merasa mampu membuat orang-orang kebingungan. “Coba satu dari kalian bertanya padaku?” Sahut made setelah ia tertawa dengan pedenya, juga belum ada siswa atau siswi yang berani menjawab pertanyaan made tersebut, karena pada dasarnya argumen made memang sangat sulit di patahkan walau di kelas ia lebih di kenal sebagai siswa pendiam.
***
Sampai suara bel terdengar para siswa masih bergumam dengan beberapa teman dekatnya, made menaburkan senyumannya yang mampu membuat siapapun itu jatuh hati. Seakan ia mengetahui apapun yang akan keluar dari mulut teman-temannya tersebut.
“Alasanku berkomentar seperti itu pada postingan putri adalah karena tidak mungkin Tuhan akan secara langsung membalas postingan putri itu. Maka kitalah yang wajib menjawabnya karena kita melihat.” Budi berkata dengan nada sedikit tergesa-gesa.
“Iya betul itu kata budi, sebagai wujud rasa beribadah kita kepada Tuhan maka setidaknya kita menerapkannya menjadi sebuah perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun Tuhan berada dalam diri kita. Lalu kenapa aku tidak cemburu? Karena jika memang iya, putri adalah sahabatku. Senyumnya adalah senyumku juga, lalu untuk apa aku saling berebut? Jika dalam senyumnya terdapat senyumanku? Jika dalam perilakunya terdapat perilakuku?” Ayu menambahkan apa yang di katakan budi.
“Begitu teman-teman, jadi semua sudah paham ya? Tidak perlu lah, kita langsung membuat gempar, apalagi kita satu sekolahan atau bahkan satu kelas. Sepatutnya kita tanyakan terlebih dahulu, atau jika sungkan kita dapat mencari berbagai informasi yang belum kita miliki agar nantinya terihat jelas. Untung bapak-ibu belum datang, bila datang kalian masih terlihat memendam rasa bingung kan pasti mereka dapat curiga dan menimbulkan berbagai prasangka?” Made menjelaskan sambil berlalu ke tempat duduknya di ikuti semua teman-temannya. Ibu guru sudah terlihat di ujung gedung berjalan membawa beberapa buku materi yang sudah di siapkan.
Semua bergegas dan menyiapkan alat tulis masing-masing.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 5 Maret 2018.
Gabung dalam percakapan