Hujan Air, Hujan Paku

Akhir ini, beberapa tempat hujan lebat beserta angin, Kekasih. Ia mengguyur gentong-gentong yang kosong dan menyirami layu gairah kehidupan. Anginnya membawa terbang setiap kenangan yang tak ingin enyah, baik dengan terpaksa atau sukarela.

Akan tetapi, hujan deras dan angin, itu masih normal. Konon, dunia tidak akan hancur hanya jika hujan masih membasahi rumah-rumah semut di tanah gersang.

Di kejauhan mata memandang, hujan itu bukan lagi air. Namun ia adalah paku-paku raksasa yang bising dan membawa malapetaka. Seperti kata iblis bahwa dunia ini akan di hancurkan oleh manusia yang kejam, tetapi Tuhan adalah Sang Sutradara Sejati yang lebih tahu jalannya setiap pemandangan dari awal hingga akhir.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa