Sumber

Ponokawan: Masa Depan Mengikuti Zaman



Bagong, semalam aku ke rumah ponakanku. Mereka sedang mengerjakan Pekerjaan Rumah, aku kira, kurikulum saat ini sudah tidak ada lagi PR-PR dan semacamnya, ternyata masih ada. Meski, sebenarnya bukan PR yang menarik, tetapi bagaimana zaman kini sudah berkembang begitu pesat.

Jika dahulu beban hanya ada pada anak, soal PR-PR ini. Kini, beban itu pula ada di sisi orang tua. Lha wong PR saja selain di berikan saat waktu sekolah, masa kini, PR juga di informasikan melalui grup kelas masing-masing wali murid. Misalnya, di sesi tatap muka selanjutnya anak tersebut lupa mengerjakan. Otomatis ini akan mengarah ke kedua hidung orang tua yang gagal dalam berteman dengan anaknya.

Tidak cukup sampai di situ.
Zaman ini adalah peralihan dari sebuah lompatan teknologi yang sangat tajam. Masih banyak orang tua yang anaknya sedang bersekolah tingkat dasar, namun kedua orang tuanya sudah berkepala empat dan dahulunya tidak mengenyam pendidikan yang cukup. Akibatnya, pelajaran seperti bahasa inggris adalah momok yang menakutkan jika seorang anak bertanya kepadanya. Akan tetapi jangan salah, teknologi akan selalu mendorong kehidupan baik terpaksa atau tidak untuk selalu mengikutinya. 

Itulah yang terjadi dengan kedua ponakanku.
Beberapa tahun silam, jika seseorang tidak tahu akan alih bahasa satu teks saja. Ia harus membuka kamus bahasa inggris yang besar nan tebal, buku yang cukup untuk menampar bibir tukang bersandiwara hingga nyonyor.

Alih-alih dengan kamus tebal dan besar, ia pakai Google Translate. Duar! Mungkin, teknologi memang menakutkan, tetapi ia akan selalu seperti pisau bermata dua. Bahkan, ketika ia mengetik sebuah teks panjang lebar layaknya luas persegi panjang. Aku arahkan ia untuk membuka Lens. Apakah jawabannya? Ya, jawabannya: aku sudah tahu itu. Wah, wah, wah. Ternyata ia pintar, meski ada Lens dengan paradigma OCRnya (Pengenalan Karakter Optik), ia lebih memilih membaca dan mengetiknya manual. Cara tersebut tentu dapat merangsang otak untuk read & write. Mirip yang terjadi dengan komputer-komputer di mana tempat AI di masak.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!