Ki Demang & Murid-muridnya #2
Sore itu made sedang gelisah dengan kehidupan pribadinya. Sosok yang ia kagumi bernama fitiya telah lama tidak berjumpa dengannya. Boleh saja ia tipikal penyerang yang tidak mau menjemput bola, atau mungkin ia seperti seorang kiper yang berusaha sungguh-sungguh menjaga gawangnya agar tidak kebobolan. Karena sebenarnya ia dan fitiya adalah dua orang yang saling membutuhkan. Hanya saja made tidak terlalu menanggapi serius apapun yang tidak tepat mengarah kepadanya.
Kriiing..kring.. (terdengar nada klasik telepon punyanya).
"Hallo made. Selamat sore, bagaimana kabarmu?" Terlihat pesan masuk dengan nama ayu di layar telepon.
"Hallo ayu. Selamat sore untukmu juga. Kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan anakmu?" Balas made.
Lama berkirim pesan, ayu yang sudah mengetahui bila made sedang menyukai wanita model itu tiba-tiba bertanya "Bagaimana kesungguhanmu menanggapi ketertarikannya made?". Made yang tampak realistis menanggapi apa adanya tanpa bumbu-bumbu lain bak koki ala prancis.
" ~Ohh Tuhan, sore ini Kau datang kepadaku untuk bertanya tentang perasaanku.~ Iya, karena aku mencoba memposisikan diri saja. Agar nantinya aku tidak kerepotan dalam menjalani hidup. Toh, bila ia benar tertarik kepadaku Kau juga akan menjaga agar matanya yang anggun tetap menjadi milikku bukan?."
"Maksudmu made? Aku benar-benar tidak paham dengan balasanmu kali ini, dapatkah kau menjelaskan kepadaku?"
"Ohh itu ya, jadi dua minggu lalu Tuhan bertanya kepadaku ~Made, apakah kau sudah punya tambatan hati yang baru?~ dan aku jawab beberapa saja. Lalu sore ini Dia bertanya kembali mengenai kesungguhanku? Ahh...itu sebenarnya bukan kau yang bertanya ayu. Aku yakin." Jawab made dengan penuh keyakinan.
"Kamu memang benar sudah gila ya, jelas-jelas ini aku yang kirim pesan ke kamu. Atau kamu sedang galau?" (Sambil menyisipkan salah satu tangkapan layar percakapannya).
"Tidak ayu, aku tidak gila. Buktinya aku masih dapat mengingat namamu bahkan nama lengkapmu yaitu Anjani ayu larasati. Dan sebenarnya aku tahu, bahwa kamu dari tadi bosa-basi saja. Intinya bahwa sore ini kamu hanya akan bertanya itu saja kepadaku. Bukankah begitu ayu?" Terlihat tanda terkirim di teleponnya.
"Aku juga tidak sedang galau ayu, aku hanya merasa gelisah saja dengan diriku." Balasan tambahan yang made kirimkan kepada ayu.
Tidak terasa lama berkirim pesan, ayu tampak mengakhiri percakapannya karena hari semakin petang.
"Selamat berjuang made, kamu pasti bisa. Apapun yang kau harapkan lekas terkabul. Aamiin. Rahayu." Begitulah kalimat terakhir balasan dari ayu.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 4 Januari 2018.
Gabung dalam percakapan