Sumber

Tuhan & Tumbuhan



"Wite wis do awoh gurung?"
"Wit ingkang pundi, Pak Dhe?"
"Kae wite cengkih karo kopi nang ngisor?"
"Niko mpun dipanen dinten wingi, kantunan mongso ngrabuk malih niki, Pak Dhe"
"Ha iyo, men lek awoh maneh sing ndadi"
"Aamiin, nggih, Pak Dhe, matur nuwun pandongane"



Dalam diri kita juga ada sifat tumbuhan yang bermacam-macam jenis dan buahnya serta karakter lainnya. Tumbuhan yang tumbuh di daerah gurun tentu berbeda dengan yang ada di daerah tropis, begitu pula dengan yang ada di daerah kutub juga berbeda dengan yang ada di daerah gurun maupun daerah tropis. Tuhan telah menetapkan rancangan-rancangan yang sistematis sehingga satu dengan yang lain dapat saling berelaborasi terus menerus sesuai dengan kehendak yang telah di tetapkan-Nya.



Baik dalam satu jenis tumbuhan yang hidup di satu daerah yang sama mempunyai karakter dan hasil yang berbeda-berbeda pula. Karena kesemuanya adalah ketidakberaturan yang teratur. Sains dapat menjawab karakter tersebut dengan lebih spesifik sementara matematika dapat mengelompokkan menjadi gambaran kemajemukan semesta, sebagai contoh adalah bilangan fibonacci, teori fraktal, dan bab-bab yang lain.

Keberadaan tumbuhan kemungkinan lebih awal dari pada manusia sendiri. Sebab tumbuhan sebagai penopang kehidupan manusia dan termasuk aturan bawaan yang ada di alam semesta.

Melihat banyak spesies tumbuhan (contohnya) menandakan bahwa Tuhan menyukai keindahan dan seni yang kemudian termanifestasikan dalam setiap warna-warni dedaunan, batang, bunga, buah bahkan sampai ke akarnya.

Masyarakat nusantara khususnya Jawa secara terminologi mencoba selalu membaurkan unsur-unsur Sang Pencipta terhadap segala aktivitas kehidupan. Bukan tanpa alasan mengingat Jawa adalah salah satu pulau tertua didunia.

Contoh bauran tersebut salah satunya adalah bentuk dialektika keseharian masyarakat Jawa seperti pada penggalan dialog di atas yaitu awoh yang berarti berbuah. Pengetahuan pembuahan dan pertumbuhan dalam pengetahuan Jawa adalah hal mutlak yang dapat dilakukan oleh Sang Pencipta. Akan tetapi keseluruhannya diatur dalam hukum-hukum semesta yang selalu berhubungan dan berkesinambungan sehingga dapat dicerna oleh manusia. Dari sedikit pengertian tersebut kemudian mengerucut kepada satu nama yaitu asma Allah (Awoh). Hal ini bukan bermaksud untuk menyimpangkan kebenaran, akan tetapi menambah wawasan sehingga mencapai titik temu yang sama sebagai bagian dari kebudayaan yang secara bersamaan dapat mengingatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Teks asli di publikasikan pada tanggal 10 Desember 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!