Sumber

Sitayana: Peluk Erat Luka Dan Derita



Shinta.
Tahun ini akan segera berakhir, seperti berakhirnya kisah tragis dan pilu yang telah aku ketakan kepadamu tahun lalu. Ngeri ngarai ini ternyata beberapa hari lagi aku tanggalkan. Banyak hal telah pergi dan banyak hal pula telah datang. Namun, bukankah begitu kehidupan, Shinta? Juga, bukankah kehidupan ini akan terus berjalan meskipun "kita tiada"?

Kenyataan dunia ini sangat pahit, Shinta. Itulah kenapa aku selalu mengajakmu bangkit dari tempat terlelap manismu. Meski pada dasarnya setiap orang terluka, namun respon dari setiap luka terkadang menjadi kesadaran untuk menularkan luka yang sama atau lebih tragis kepada yang lain. Walaupun, di sisi lain, juga terdapat orang-orang yang memilih meringkuk sendirian dalam dinginnya dosa, nestapa, sepinya dunia yang tak bertepi.

Ku basuh luka dengan air mata, meski air mata itu adalah rasa sakit dari derita. Sebuah langgam yang harus di tarikan dalam kesadaran.

Bukan berarti tahun depan kengerian tak akan pernah mengintip atau bahkan datang dengan keganasan lain, Shinta. Namun, inilah jalan yang aku pilih meskipun penuh nanah dan darah, kendati kepalaku berdarah-darah serta terkapar oleh gada takdir. Menyerah tak pernah ada dalam kamus kehidupanku. 

Setahun ini, aku benar-benar memilih setiap jalan aman untuk melangkah, Shinta. Aku berusaha untuk tak menantang siapapun, sekalipun jika itu diriku sendiri yang sedang berdiri mengangkang. Aku membiarkan setiap hal pergi dan tak pernah berusaha menggenggam atau mengusahakan untuk mengejar serta bersimpuh tuk memohon. Pergilah jika ingin pergi, aku tahu siapa diriku, begitulah kataku kepada setiap hal dalam lubuk hati kecilku.

"Tidak ada di dunia ini harus di bela mati-matian. Bahkan jika engkau mencintai seseorang, bersama atau tidak, suatu saat nanti harus di lepaskan dengan ikhlas atau terpaksa."
— Semarang, 5 Desember 2025

Terkadang, cara aman adalah jalan tragis yang juga sering melukai orang lain, Shinta. Lagi-lagi dalam paragraf di atas, aku mengatakannya dengan tandas. Walau, inilah resiko, bahwa setiap hal di dunia ini juga mengandung resiko dalam setiap pilihan kehidupan kita. Dalam tempo yang telah semakin menipis itu, aku harus cepat untuk menepis setiap kikis waktu yang kian kritis. Karena aku tak punya waktu lagi untuk tertawa atau menyulam benang-benang cinta kepada siapa saja. Ego harus di kesampingkan, begitu juga dengan fatamorgana. 

Oke.
Mau? Mari genggam erat tanganku dan arungi samudera ini bersama. Jangan kaget untuk setiap hal. Insidental, pilihan aman yang di jalankan adalah rahasia besar dalam menjalani jejak kehidupan. Inilah juga yang tidak diketahui seseorang.

“Di dunia ini ada jiwa-jiwa yang tak sepatutnya dilepas. Ada cinta yang justru meminta kita menggenggam lebih erat, bukan menyerah pada waktu. Jika hati telah menemukan rumahnya, maka perjuangan bukan lagi beban, melainkan cara kita menjaga agar yang berharga tetap tinggal.”
— Syifa, Semarang, 5 Desember 2025

Shinta.
Setelah hujan turun, tanah akan kembali lembab dan rerumputan akan senantiasa menyembul mengintip dari sela-sela tanah. Begitu juga dengan bunga, Shinta. Ia akan kembali menghijau, mekar dan semerbaknya menyemai hati yang sepi. Bukankah Tuhan berkata bahwa — dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup — maka, percayalah setiap hal akan berakhir. Terlebih bila itu adalah nestapa dan derita.

Selamat tinggal dan selamat datang tahun-tahun yang di nantikan.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!