GIGOLO
Piye, yo, Gong. Arek-arek ki nyenengke tenan. Lha kok ora? Sore iki aku ditakoni: Mas, tahu Gigolo ndak? Yo jelas aku jawab lugas: ndak tahu, coba tanya Cute.
Aslinya ya aku sambil menyelam ke dalam otakku sendiri, Gong. Rasanya aku pernah dengar istilah Gigolo. Yaps! Akhirnya ketemu. Tetapi karena aku tahu Arek ini ngeyelan, jelas aku juga sambil bawa referensi dari Si Mbah. Ya, Mbah Gugel bin Amriki itu, siapa lagi yang konon serba tahu di zaman kekinian ini kalau bukan Si Mbah?
Aku panggil orangnya dan aku katakan dengan tandas bahwa Gigolo itu aplikasi grafis untuk mengelola koneksi sistem berkas jarak jauh. Sambil aku tunjukkan; nih referensinya. Tau ndak, Gong? Ternyata ia masih ngeyel rupanya. Lhoo, gimana coba? Nyenengke to? Sanggahnya, bukan itu, bukan itu. Terus di ulang-ulang. Wong aslinya dia itu mungkin juga pernah operasiken FileZilla, yo sama saja kek Gigolo. Cuma beda dunia aja.
Lha, yo. Kalau bukan itu, berarti kan sudah tahu. Lha kok malah tanya saya. Lha saya tanya ke siapa, Gong? Tanya Si Mbah, ya masih di salahin. Nyenengke to, Gong? Tapi, bukankah begitu perempuan, Gong? Makanya, aku pakai ilmunya Sahabat Kanjeng Nabi — Umar bin Khattab. Yaa, aku sedang berusaha sejak lama buat sinau meneng kalau sama perempuan. Meski beberapa orang jadi nganggep aku bucin, alias budak cinta. Ya wes, ndak papa, akar dari cinta itu kan kasih dan sayang. Bukankah pula Tuhan itu adalah kasih sayang yang meraja?

Gabung dalam percakapan