Ponokawan: Realitas, Realistis Kehidupan
“Heuheuheu. Hari ini aku ketemu sama seseorang, Truk. Bapaknya ini ngobrol ngalor ngidul sampai ngomongin seorang kiai yang cukup tersohor, bahkan kalau kamu tau kiai ini, cari di media sosial bakal banyak videonya. Kisah seorang kiai dan sopirnya, konon sang sopir dulunya adalah fans berat kiai. Kemana saja kiai ceramah, calon sopir ini selalu ikut serta dan tibalah hari di mana ia di dapuk jadi sopir sang kiai. Masa pandemi juga menjadi pasang surut bagi jadwal kiai ceramah, di sisi lain anak pak sopir mulai masuk ke perguruan tinggi dan butuh motor. Berceritalah sopir ini kepada sang kiai, singkat cerita pak kiai membelikan motor kepada pak sopir dan tetap membayar cicilan bulanan -- semaunya sopir mau nyicil berapa. Saat proses penamaan BPKB, pak sopir bingung, pak kiai dengan enteng bilang bahwa ini harus atas nama pak sopir, karena pak sopir yang beli. Meskipun uangnya dari sang kiai. Bulan terus berlalu tetapi pandemi semakin menggila dan job seperti menghilang di telan bumi. Ada suatu hari di mana pak sopir sowan ke rumah sang kiai dengan tangan kosong dan langkah kaki yang berat, mau tak mau harus menceritakan kondisinya yang tak bisa membayar cicilan bulanan motornya. Sesampai di rumah pak kiai dan menceritakan keadaan, masih dengan gaya entengnya pak kiai bilang: ya gak usah dicicil lagi motornya, ambil aja. Heuheuheu. Bapaknya yang ketemu sama aku mengatakan, ia kini juga sedang mempraktekkan ilmu tingkat tinggi itu.”
Teks asli di publikasikan pada tanggal 29 Oktober 2021.
Gabung dalam percakapan