Sumber

Kenangan Pada Sebuah Kamar

Tak akan pernah ada lukisan yang lebih indah dari lada lukisan Tuhan sendiri.


Foto ini aku jepret pagi buta dari kamar tidurku. Jendela kamar memang menghadap ke arah selatan dengan gaya khas, yaitu slide.

Kamar yang agak aneh, hampir sekelilingnya ada grafiti nama-nama band, daerah, lagu, banyak lagi, tapi dari sekian banyak tulisan itu hanya kata Blawong yang aku gambar dua kali ; satu di depan dan satu di belakang...unik saja sih. Ternyata memang benar kalau kata penyusun Blawong itu unik. Tahun-tahun itu, sangat sulit di jumpai toko foto-foto ilmuwan atau tokoh-tokoh yang cocok denganku. Jika ada, pasti aku akan memasangnya di sekeliling.

Bagian depan terdapat buku-buku yang aku punya. Di atas kepalaku jika berbaring, ada tape kecil yang sering aku putar baik dari kaset ataupun radio, tapi aku lebih suka mendengarkan desisan angin lembut dan suara burung yang aku rasa seolah sangat dekat sekali, atau mungkin suara itu adalah nada-nada alam atau cara berinteraksi yang aku sendiri ndak paham, tapi nyaman. Ya, itulah Cinta.

Belakang rumah adalah satu petak lahan kosong dan sampingnya lagi lahan kosong yang agak luas. Tepat di belakang rumah, sering aku bernyanyi, membaca puisi-puisiku, bermonolog, memahat bebatuan, dll. Meskipun ndak ada yang nonton, tapi aku tetap bersemangat heuheuheu. Mungkin yang nonton bukan golongan manusia, bisa jadi pepohonan, binatang, dan penghuni semesta lain. Aku lebih suka menyendiri dari pada di keramaian, introvert? Silakan, aku ndak akan menyanggahnya sekalipun ambievert.

Ndak usah panjang lebar lah...masih banyak persegi panjang lain yang lebih penting di ukur. Seperti persegi-persegi masa depanmu. 

Teks asli di publikasikan pada tanggal 17 September 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!