Sumber

Wanita Idaman



Lembut kulitnya ketika kasturi menempel di antara gaun-gaun kenanga.
Berhembus angin malam menyentuh, menyelimuti tubuh indah nan erotis.
Kemolekan postur yang sangat persisi tiada tanding..
Satu kesatuan esensi yang menonjol di sebuah kesunyian malam..
Akan segera berubah menjadi cerita yang menakutkan!

Membisu semakin terkapar di ujung nyawanya..
Menahan sakit antara terpaksa dan beberapa nikmat yang terasa.
Hampir setiap malam selalu tak tersisa, hanya berbekas sebuah luka.
Luka yang memiliki seribu cerita kenangan.
Menjadi saksi kekejaman para penikmat, yang sudah tertata dan tersaji.

Bayangan yang indah ketika purnama bersinar.
Dengan berserinya senyum menembus luasnya angkasa.
Berayun-ayun dengan beribu posisi, gaya yang berbeda.

Bertahan lama hingga berjam-jam lamanya.
Bisa saja tak terhitung waktu ataupun lencana terkuatnya.

Khas bisikannya tak mampu di terjemahkan oleh bahasa.
Desahan akan kerinduannya teringat hingga beribu tahun mendatang.
Tubuhnya yang seksi tak terkadang terbakar api malam.
Tak pernah ada yang memperhatikan dalam rintihan jiwanya.
Semua terdiam, membisu, tertutup matanya akan sebuah kepentingan.

Jeritan kerasnya tak pernah terdengar bak bisikannya yang merdu.
Mereka telah tuli!

Tangisnya yang keluar tidak pernah terbayangkan dalam pikiran mereka.
Ketika malam mereka menikmati kehangatannya.
Menikmati belaian dan kasihnya.
Mereka telah buta!

Telah terlupakan cinta dan kasih sayangnya yang telah di berikan.
Hanya tersisa kebisingan baru yang semakin terasa semerbak polusinya.
Di atas lahan yang tak bertuan di bawah para pemegang kepentingan.
Kamilah yang terlupakan zaman..
Alam.

Gambar: Agus Jaya - Dalam Taman Nirwana.

Teks asli di publikasikan pada tanggal 18 Juni 2016.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!