Elegi Wajah Yang Sirna
Kekasih, saat engkau bercermin, aku curiga engkau sedang menghitung banyaknya bilangan fibonacci dalam wajahmu. Lalu engkau memekarkan deret tersebut menjadi fraktal. Tak terasa air mata telah membanjiri lesung pipi indahmu itu, ia menetes layaknya butiran salju yang berjatuhan. Apakah butiran salju dan tetesannya masih mengandung esensi matematika, Kekasih?
Cermin mana lagi jua yang tak ikut luruh meliat pesona anggunmu yang dapat mengiris-iris hati, Kekasih? Meski saat ini tak hanya cerminnya yang lenyap bersama waktu, wajahmu, dirimu turut serta sirna dalam bayang-bayang senja.

Gabung dalam percakapan