Sumber

Rembulan: Kekasihku



Kekasihku.
Kini engkau tak hanya menyirami dan menyemai rindu serta kangenku kepadamu. Engkau semakin membuatku menangisi hidupku sendiri, Kekasih. Betapa mengenalmu, menjumpaimu adalah salah satu anugerah terbaikku di dunia ini.

Kekasihku.
Saat aku menangisimu, aku sedang takut bahwa aku tak bisa mendapatkan cintamu. Alangkah indahnya di cintai olehmu dengan cinta yang sama kepada Sang Kekasih. Tidakkah engkau tahu, bahwa hal ini semakin membuat tangisku menggeru?

Kekasihku.
Tatkala menangisimu, di saat yang sama aku juga takut. Bagaimana jika aku mendapatkan cintamu, tetapi kehidupan ini terlalu terjal untuk engkau lalui bersamaku? Bukankah itu juga menyakitkan, Kekasih?

Kekasihku.
Semakin berhamburan air mataku berjatuhan, di saat mengingat kenyataan apakah aku akan sakit hati bila ternyata engkau tak akan pernah mau bersamaku? Ya Allah, Ya Tuhanku, segeralah engkau basuh jiwaku yang gila ini. Keringkanlah jiwaku dengan cinta kasih-Mu yang meraja. Tumbuhkanlah keindahan dari setiap butir tangisku yang berjatuhan, agar meskipun aku menangis. Tangisku adalah hal yang bermanfaat untuk kehidupan.

Kekasihku.
Dalam tangisku, aku tetap bersyukur bertemu denganmu. Jika tak menjumpaimu, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa di dunia ini masih ada Bidadari secantik engkau. Jika memang bukan jalanku, demikianlah jalan para abdi dan Bidadari yang hanya bisa di kagumi.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!