Jembatan Mana Lagi Selain Kata-Kata
Gita, bagaimana kabarmu?
Apakah kabarmu sama misteriusnya dengan namamu?
Tetapi aku percaya bahwa kabarmu baik-baik saja. Ini karena aku juga percaya engkau orang baik.
Gita, aku tahu engkau tak suka sejarah. Tetapi instingmu untuk tak lupa sejarah, cukup bagus. Ini layaknya pesan orator ulung di negeri ini yang pesannya sangat fenomenal berbunyi: Jas Merah!
Gita, apakah tidak ada waktu untuk kita menghabiskan waktu di Borobudur, Prambanan, Boko, Istana Raja dan makam-makam para Raja, misalnya? Simbolisme Tuhan pernah berfirman dengan menyindir orang-orang zaman kini yang terlalu bodoh untuk mengerti. Ya, tentu saja, Tuhan cukup berkata bahwa perkakas rumah tangga orang zaman dulu itu lebih bagus.
Duh, Gita.
Jika perkakas rumah tangganya lebih bagus, ini hanya perkakas rumah tangga. Tuhan tidak perlu menjelaskan bahwa istananya megah dan indah layaknya racun cintamu yang membunuhku perlahan.
Duh, Gita.
Bukankah cinta itu juga di bangun, di rawat, di lestarikan oleh sejarah? Di bangun oleh sejarah agar kita selalu ingat ketika melangkah. Ingatan tersebut kemudian akan menjadi nyawa yang merawat cinta dalam keseharian. Jika sudah paripurna, maka ia akan menjadi lestari. Tanggalkan pengkhianat, karena konon juga di makam-makam para Raja Imogiri, pengkhianat di tempatkan pada salah satu anak tangga. Untuk apa, Gita? Untuk di injak-injak setiap orang, yang bahkan itu dari kelas sudra. Berkhianat dalam cinta, ia sudah bukan cinta lagi. Tetapi benalu yang tak punya malu.
Duh, Gita.
Jembatan mana lagi selain kata-kata yang dapat aku bangun untuk dapat menjumpaimu?

Gabung dalam percakapan