Kehidupan Seperti Bianglala
Iya, seperti goresan sakit dan lukaku yang pernah aku ceritakan kepadamu serta kini telah memudar bersama waktu, Shinta. Tuhan Maha Guyon, yang guyonannya melewati batas ruang dan waktu, bagaimana guyonan itu adalah pesan tersirat serta cambuk bagi setiap jiwa yang memiliki rasa.
Hal yang paling menyakitkan di dunia ini salah satunya adalah ketika seseorang berkeluh tentang perjalanan kehidupan yang sedang ia alami dan kita hanyalah bisa termenung tak bisa berbuat atau membantu apapun. Menyakitkan sekali itu, Shinta, karena kita seolah telah gagal setidaknya menjadi manusia yang bermanfaat untuk kehidupan ini.
Dua tahun berlalu sejak aku kompos tulisanku tentang "Tersinggung", akhir ini beberapa orang berkeluh tentang hidupnya kepadaku dan aku tidak dapat memberikan apapun selain kata maaf yang dapat aku ucapkan, Shinta. Menyakitkan memang, bagaimana kita tidak dapat berbuat apa-apa disaat orang lain, apalagi orang terdekat sedang membutuhkan. Tetapi ya bagaimana lagi jika memang kehidupan kita sudahlah cukup terjal, bagaimana mungkin kebijaksanaan tidak kita pergunakan? Bukankah seni mencintai adalah bagaimana cara kita mencintai diri kita terlebih dahulu?
Dalam kehidupan yang seperti bianglala ini, terkadang kita takut, terkadang khawatir dan seterusnya. Tetapi tetap harus di lalui dengan riang dan gembira. Bukankah dunia memang di ciptakan untuk bersenang-senang, Shinta?

Gabung dalam percakapan