Prengas-Prenges
"Kowe sejak kapan prengas-prenges dewe ngono, Gong?!"
"Heuheuheu. Sejak aku tau bahwa Tuhan Maha Guyon. Mosok, Truk! Wingi kleyenku baru aja ngomong sekarang pindah ke orang lain. Lha kok dino iki kleyenku sing liyo berkata bahwa penjualan prodakku sudah mulai turun."
"Lha opo hubungane karo prengas-prengesmu?! Ojo2 kowe ngombe bekonan lek2. Gegoro ora teteg ati?"
"Heuheuheu. Justru itu, aku sudah pengalaman ama cara main Tuhan. Yen begini, berarti Dia sedang mencoba mengamankan aku. Yo ojo mbok tekok, pengamanan dari apa. Aku kan ndak tau, wong aku juga bukan panitia langit."
"Wooh, lha dari mana kowe tau kalau itu cara Tuhan mengamankanmu?"
"Lhoo, Truk! Ini soal kemesraan, soal hal lain, soal sesuatu ya yang setiap pribadi harus punya kesadaran. Paling gampang ya dulu siapa sih yang ndak kenal sama Bagong? Lhoo, terkenal karena nakalnya. Tapi di sisi lain, cara itu adalah supaya aku jadi orang yang tahan banting dan tahan isin. Dari yang nakal gitu2 aja, akhirnya Tuhan dengan perantara takdir memindahkan aku ke Hastinapura, sampai sekarang. Dimana di situ juga tak alami berbagai kisah2 yang yaa 'ini cuma cara Tuhan mengamankan aku.'"
"Oo, ngono. Tapi yo bener, Gong! Aku juga pernah, punya pacar kae to wong pinggir omahe Srikandi. Jadi yen Den Arjuna ning omahe Srikandi, aku juga ning omae cah kui. Sampai suatu ketika kita udah ndak sama2 lagi. Aku di ece Gong karo Den Arjuna, bayangno kowe! Tapi ternyata pisahku sama dia cuma soal kebaikan. Jadi pada akhirnya temen2 dia pada nikah semua dan aku di pertemukan sama seseorang dari sekitar Hastinapura ini. Makanya aku mikir seumpama dia sama aku, lhoo bagaimana ndak terbebani pikirannya? Wong temen2nya udah pada nikah, masa iya mau menungguku sampai tua? Disisi lain, aku di sini jadi gampang mlebu-metu ya karena aku deket ama orang dalam. Dengan begitu, paling nggak itu memudahkan hidupku-lah sebagai abdi."
"Mulane, kalau ada sesuatu ya mari kita tertawa. Bahkan kalau itu suatu kesedihan. Lha po perlu aku ndalil sek tentang senda dan gurau di dunia ini?"
"Ora2. Aku percoyo omonganmu."

Gabung dalam percakapan