Sumber

Triangle Place



Bagi sebagian orang yang sering baca komposanku, mungkin tidak kaget lagi kalau aku termasuk orang yang tidak mudah percaya. Sekaligus tidak mudah percaya kepada diri sendiri, karena fakta yang aku temukan, terkadang diri ini memiliki banyak ruang dan labirin, adakala menipu serta tertipunya.

Kalau begitu, mari kita pergi ke dimensi lain yang ternyata setiap hal memiliki hal-hal positif, meski yang akan kita temui hanyalah hikmah. Serupa menjadi aktor dalam sebuah pertunjukan, kita harus bersyukur karena tidak menjadi tokoh antagonis. Mengapa? Di zaman maya ini, peran kita akan mendorong seseorang memiliki persepsi serupa dengan penokohan kita di saat pertunjukan.

Lalu, dari rasa tidak percaya tersebut aku mencari faktanya. Beberapa waktu lalu saat ngobrol ngalor ngidul, seterusnya kita singkat menjadi 3NG. Terdapat suatu hipotesis melegenda di Kota Semarang yang mengatakan adanya Triangle Place, di mana ketiga tempat tersebut merupakan makam sakral. Diksi bentuk segitiga ini adalah sesuatu yang aneh untuk menyatakan sebuah tempat kuno, meski segitiga memang mempunyai berbagai bentuk mulai dari tidak beraturan sampai sama sisi.

Di saat yang sama dalam 3NG, aku memanfaatkan Google Maps untuk menandai tempat-tempat yang di maksud dan memastikan lagi sebagai bagian langsung dari uji hipotesis. Dari pengukuran tersebut, ternyata legenda adanya Triangle Place tidak hanya sebatas hipotesis, melainkan fakta. Lebih mencegangkan karena bukan berbentuk segitiga tidak beraturan, melainkan sama sisi yang presisi. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana orang zaman dahulu menandai tempat-tempat tersebut dengan kepresisian yang tinggi dan jarak ratusan meter?

Tidak hanya pertanyaan bagaimana, tetapi mengapa harus segitiga? Apakah karena segitiga merupakan salah satu manifestasi bangun yang ketika di potong-potong tetap memiliki bentuk yang sama, yaitu segitiga? 

Siapa di sana? Di katakan pucuk dari segitiga tersebut adalah tokoh kunci dari ketiga tempat yang di maksud. Karena tokoh-tokoh ini lekat dengan sebuah ajaran tertentu, maka kita akan melihatnya dengan landasan teologi.

Dalam teologi, setidaknya dapat di artikan bahwa segitiga adalah bentuk penggambaran Tuhan sebagai pencipta. Pucuk segitiga adalah asal muasal dari semua tempat yang akhirnya menjadi sudut-sudut lain dalam segitiga. Apalagi jika segitiga tersebut berbentuk sama sisi, yang mempunyai makna meski di putar-putar dengan alas yang lain maka ia tetap memiliki pucuk dan bentuknya tetap sama sediakala.

Teologi spiritual juga mempunyai makna mengenai perjalanan manusia dari berbagai latar belakang menuju kesempurnaan dan pencerahan. Lagi-lagi pucuk segitiga adalah penggambaran kesempurnaan atau pencerahan serta sudut lain yang semakin melebar merupakan visualisasi manusia dari berbagai latar belakang.

Pemilihan segitiga menjadi sanepo (kiasan) dan implementasi keilmuannya mengenai segitiga adalah bentuk kecerdasan.

Sumber gambar: wallpaperbat.com
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!