Tempat Di Mana Kata-Kata Bukan Berhala
"Ayah, aku ingin pergi kesuatu tempat, yang tak ada lagi kata maaf sedikitpun. Tempat dimana kata-kata tak diberhalakan. Yah, Ayah, apakah Ayah melihat gelisahku? Maksudku ketika kita bertemu seseorang yang ada hanya kemesraan, apalah arti kata, Yah? Apakah ketika tangan tak mampu berjabat dan bahasa tak dikuasai lalu hanya mengerti "Skorku dan skormu kosong-kosong mulai hari ini" Sambil melambaikan tangan kepada seseorang? Seketika senyum dari kedua hati tumpah, merekah, tercecer dijalanan? Yah, aku ingin pergi ke Bali melihat tarian alam dan tarian manusia. Aku ingin melihat dari atas Uluwatu, gelombang naik turun, awan menyongsong senja dan matahari melambai-lambaikan tangannya, burung-burung bebas mengangkasa, mendengarkan Mantra Gayatri dalam pembukaan Tari Jangger yang menusuk-nusuk pori-pori kulit. Atau ketika senja menghilang dan Adzan berkumandang menyelimuti tiang-tiang langit. Malam semakin larut dan seseorang berucap 'say Hallelujah in your dreams on every night'. Tampaknya aku juga ingin ke Ngayogyakarta yah. Ayah, temani aku berkeliling, Yah, aku ingin mengelilingi alun-alun Yogyakarta dan pergi ke Siti Hinggil, lalu melihat-lihat simbolisme tersembunyi dari setiap ekspresi, Yah. Seperti simbol Nanggroe Atjeh Darussalam, tapi, Yah...tapi Yah, aku juga ingin ke sana, Yah, menyusuri setiap langkah tangisan penyair tua, tapi juga siapa, Yah? Yah, jangan tidur dulu, Yah, aku masih pengen membayangkan suatu tempat yang tak pernah ada di bumi, Yah...Ayah, selamat tidur."

Gabung dalam percakapan