Soal Minum Teh
Kalau belum terlanjur dibuatkan, sebenarnya aku orang yang menghindari minum teh persis setelah makan. Dalam kondisi lain, terkadang menghargai seseorang yang pesan teh juga ketika kemungkinan tidak ada minuman lain/ terdapat minuman lain tetapi "harganya" di atas dari harga teh yang orang lain pesan.
Tidak minum teh persis setelah makan adalah sesuatu yang aku dapatkan dari guruku, Ibu Nur Janah. Konon, terdapat misteri turun-temurun yang di ceritakan kakak kelas dahulu, bahwa ketika ulangan atau ujian dengan penjaga Ibu Nur Janah, jangan pernah menyontek atau sekeluarganya. Di katakan, beliau dapat mengetahuinya dikarenakan seperti lantai telah berubah menjadi cermin.
Di tanggal dan bulan yang dikenal dengan Sumpah Pemudanya ini pula, aku tahu juga dari para guru-guruku terdahulu. Meski kini nasib guru juga tak kalah mengerikan, terlebih bagi mereka yang statusnya belum sah diakui oleh negara, berjuang di zona merah, terluar, dll, dst. Belum lagi mengenai tantangan zaman yang telah banyak berubah, di mana murid sudah "tidak layak lagi di berikan kekerasan" dalam pengajarannya. Terlebih, jika orang tua yang bersangkutan tidak terima, urusan menjadi pelik.
Terkadang, kata "guru" aku gunakan untuk melabeli setiap orang. Karena aku yakin, Tuhan tidak menghadirkan seseorang tanpa membawa maksud dan tujuan (pembelajaran). Baik itu dari segi perkataan maupun tingkah laku. Sebabnya, apabila terdapat orang tua murid yang berlaku tidak adil pula kepada guru, sebenarnya dalam kacamataku ini juga menginjak-injak makna guru.

Gabung dalam percakapan