Bismillahirrahmanirrahim
Paduka?
Aku sedang berkaca-kaca, memandangi maha karya-Mu yang luar biasa ini. Sebuah wajah yang Engkau titipkan kepadaku. Tak terasa pula puluhan tahun telah berlalu dan aku memakai wajah ini kemanapun aku mau. Tentu wajah ini seharusnya selalu melihat kepada-Mu, Paduka, atau paling tidak Engkau selalu bersama dalam setiap pilihan-pilihan dalam hidup yang aku mau serta lalui.
Paduka?
Apakah wajah ini semestinya memang harus memancarkan kebajikan-Mu? Yang di sisi Engkaulah setiap nama itu di lekatkan? Maksudku, tentu saja aku sangat-sangat keberatan bahkan tidak mampu jika harus memikul Asma-Mu yang Agung. Sungguh, kah, aku harus mencerminkan kasih dan sayang dari wajahku ini? Wajah yang aku pinjam dari-Mu? Sungguh, kah, aku harus memaafkan setiap kesalahan dari seluruh hamba-Mu, sekalipun itu menyakitkan? Memang, aku tidak pernah punya alasan untuk tidak memaafkannya. Bukankah Engkau adalah Maha Pemaaf? Lalu siapakah aku ini? Siapakah bajingan ini yang angkuh berani menantang-Mu, Paduka? Sudah seyogianya pula aku juga pemberi maaf, kepada siapapun, bukankah begitu? Bukankah pemberian maafku berarti tanda baktiku kepada-Mu? Dan biarlah setiap perkara yang akan orang lain lakukan di kemudian hari setelahnya adalah urusan-Mu? Mengapa aku waswas untuk memaafkan? Mengapa aku mencoba berpikir untuk mencampuri urusan orang lain kepada-Mu? Bukankah itu lancang?
Paduka?
Tuntunlah aku selalu ke dalam jalan-Mu, entah jalan lurus, bengkok, berlubang dan ngeri. Bawalah aku selalu menuju kepada-Mu. Meski harus dengan menghancurkan hatiku atau mencabik-cabik jiwaku. Bawalah aku. Bawalah aku, karena aku tahu, hanya Engkau-lah yang nantinya akan menyusun puing-puing hatiku dan membangun kembali jiwaku. Seperti ketika Engkau mengembangkan cintaku yang megah kepada seseorang, lalu Engkau pula yang punya kuasa untuk meruntuhkannya. Bukankah perasaanku ini sebenarnya adalah pesan dari-Mu untuknya, meski harus aku mengatakannya dengan luka, air mata serta derita? Tak apa, akulah hamba-Mu yang berengsek ini, kendati dengan cara itulah Engkau akan menerimaku. Bersama air mataku, lukaku, deritaku juga sesakku, aku akan selalu belajar mengingat-Mu, maafkanlah aku. Maafkanlah ketidakcakapanku menjadi manifestasi-Mu. Selain itu, tunjukkanlah aku, kami, ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya.

Gabung dalam percakapan