Kembalinya Aku Kepada Mu
Kekasih, yang terkasih.
Mungkin selama ini aku telah melupakanmu, melupakan segala kenangan dengamu. Hal-hal indah yang telah kita lalui, mungkin engkau merindukan itu, merindukan aku yang dulu, merindukan aku yang selalu mengingatmu dan mendekatimu
Baiklah, aku terima semuanya dengan lapang dada dan dengan hati yang riang serta gembira. Hal apa yang aku takutkan ketika bersamamu? Tidak ada, yang ada hanyalah aku dengan muka lesuku, badan lelahku kepadamu. Memintamu membantuku di tengah derita keadaanku.
Aku bersyukur atas keadaan ini, di titik inilah engkau memang harus menghentikanku agar aku tidak berjalan terlalu jauh lagi. Juga, aku akan berusaha kembali membangun puing-puing cintaku kepadamu, meski dengan rintihan air mata.
Aku akan menemuimu di tengah malam, menjemputmu di waktu pagi dan setiap saat aku bangun rasa cintaku yang telah hilang. Kemudian akan aku baca surat-suratmu yang indah itu, di mana dari surat-surat itulah aku belajar membaca, menulis dan merasa. Di kedua hariku, akan aku sempatkan lagi untuk mendedikasikannya kepadamu. Dedikasi yang memang telah lama menghilang.
Maafkan aku atas segala kesalahanku dan aku akan selalu meminta maafmu. Bukankah engkau menyukai itu? Bukankah engkau menyukai tangisku? Bukankah engkau menyukai suaraku? Bukankah begitu, kekasih? Baiklah, jika dengan nyawa harus aku tebus, maka aku akan menjalaninya untuk berjalan terus di jalanmu.

Gabung dalam percakapan