Ranting
Dalam cabang dan ranting yang kian mengering, ku tadah reruntuhan dedaunan yang menjadi simbolis air matamu, kekasih.
Kalau masih ingat jejakku selumbari, aku berkata kepadamu bahwa ketika tempat kerjaku membuka loker, selalu saja profilku di penuhi pengunjung. Meski aku ndak tau hubunganku ama tempatku kerja ini apa, Shinta.
Sangking hati-hatinya aku bercerita kepadamu, aku berkata dengan rendah hati pengunjungnya sekitar tiga orang perhari saja. Padahal, kenyataan, itu lebih dari tiga. Belakangan aku ketahui lamaran masuk sekitar seratus pelamar. Ini ngeri, laksana mengarungi ngarai, Shinta.
Tetapi dengan air mata ini, pernah aku patri namaku ke dalam dinding-dinding pualam di setiap aku berdiri, Shinta. Dan ku titipkan pesanku kepada pilar-pilar langit yang menjaganya.
Esok yang bersinar sudah biasa, namun perenungan ketika senja menjadi kunci menyebrangi nestapa.

Gabung dalam percakapan