Ngalor-Ngidul
Yaa, inilah pilihan jalanku, Shinta.
Seperti cerita yang kemarin aku ketik ke Kunti penghuni sebuah rumah di dekatku sini. Dalam obrolan ngalor-ngidul tersebut aku bercerita tentang konsep (sebenarnya konteks) pembalasan dalam hal apapun itu tak baik. Meski tujuannya, dari sudut pandang tertentu baik. Misalnya air tuba di balas air susu atau suatu saat aku jadikan ocehan orang jadi tepuk tangan, dll.
Yaa, aku sebenarnya kurang setuju. Balas, membalas, pembalasan, dan kroni-kroninya ini menurutku kurang berbahasa kasih, Shinta.
Cerita yang aku ketik dan aku kirim ke Kunti waktu itu, aku meminjam bahasa arus utama: bahwa aku berusaha membalas setiap orang-orang yang berlaku kepadaku dengan kasih dan sayang. Tak perduli apa yang mereka lakukan.
Dalam surat-suratku yang lain juga, pernah aku tulis bahwa soal aku ama orang lain itu seperti aku sedang berhadapan ama Tuhan. Bisa jadi orang-orang itu adalah manifestasi "tak langsung" dari Tangan Tuhan. Dan soal orang lain kepadaku, biar urusan dia ama Tuhan-(nya) saja, bukan kepadaku.
Berbagi cerita dengan Kunti ini cukup membuka kilas balik masa lalu di beberapa poin dan sudut-sudut kehidupan, Shinta. Sebuah perjalanan yang ternyata cukup tragis serta ngeri. Apalagi ketika ia menggambarkan perjalanannya yang tak kalah miris. Aku pernah bangga bahwa aku kuat, tetapi Tuhan mempertemukanku pada Kunti yang ternyata lebih kuat dari aku, mungkin juga lebih-lebih banyak kelebihan lagi di banding aku. Ini seperti sengaja Tuhan ingin berkata bahwa pengetahuanku cuma sebatas itu-itu saja, sebatas sebuah kuku yang telah di potong-potong.
Kamu cocok, Shinta, kalau berbagai cerita dengan Kunti ini juga. Ia ceria, kuat, pandai, pintar juga, dan setia. Ia selalu bangga dengan apa yang ia punyai, meski kehidupan tak berpihak kepadanya. Tetapi ia hebat.

Gabung dalam percakapan