Sumber

Sastra Bernyawa

Waroeng Pati, 29 April 2018


Melihat perkembangan di dunia atas, Gong, aku selalu berbisik pada batinku sendiri “Betapa mengerikan mereka.” Ya, mereka mengerikan, mainan ketapel zaman ini tak hanya di lakukan hadap-hadapan, tapi dari dalam rumah sendiri-pun, sangat bisa. Sambil buang hajat seolah main gim, bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Kini soal deretan teks puisi yang jadi dasar perintah, tak hanya di kuasai oleh Paman Sam, Negerinya Ratu Elisabeth dan sekutunya. Sebuah negeri yang terkenal akan tempat “kumuh & makananya” ikut serta dalam menuliskan berbagai puisi-puisi ngeri di dunia. Tetapi tak heran, moyang mereka mahir dalam bersastra juga berseni. Sampai-sampai karyanya berserakan di setiap sudut negeri hingga hari ini.

Secara tidak langsung, aku pernah bertemu dengan mereka. Dalam dunia sastra bernyawa ini, mereka memang seperti di ciptakan untuk memimpin. Tak heran jika perusahaan-perusahaan besar di sudut dunia mengadopsi anak-anak dari negeri Barata.

Selain itu, masih banyak kuda hitam yang memiliki penyair-penyair muda di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ya, penyair dan para sastrawan itu bukanlah berlatar dari ahli bahasa. Sebut saja negeri para Pertapa, Persia, Tirai Bambu? Tentu saja. Dan negeri kita tercinta yang elok nan permai.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!