Sumber

Cerita Dari Luar Rumah



Saat kecil, engkau mungkin menganggap bahwa rumah adalah tempat engkau kembali dari segala aktivitas harianmu, kekasih. Sebuah tempat yang nyaman untuk merebahkan tubuhmu yang layu dan kemudian menyiraminya dengan kehangatan suasana serta air.

Ketika engkau dewasa, rumah akan menjadi tempat yang akan engkau hindari. Bukan karena komposisinya yang jelek. Tetapi karena keadaan yang membuatmu dalam himpitan ngerinya dunia. Engkau hanya sedang menyembunyikan semua tangismu dan segenap lukamu dari setiap hal di rumah.


Karena inilah kenyataan bahwa rumah selalu memiliki jendela, itu di pergunakan untuk di tutup setelah engkau berhasil mengintip sekelumit keindahan dunia yang berdiri dari hasil tirani dan hukum sosial.


Jangan salah bahwa di rumah-rumah tetanggamu yang adem ayem tak pernah ada huru-hara artinya mereka baik-baik saja. Tidak. Seisi rumah hanya pintar membuatnya menjadi nyaman dan aman. Karena hanya di rumah miliknya-lah, mereka dapat tertawa lepas, menanggalkan sayap yang telah hancur berkeping-keping.


Substansinya, engkau tak sendirian menghadapi keadaan ini, keadaan yang apapun kondisinya sedang menimpamu. Karena di luar sana, di dekatmu, di kejauhan matamu memandang, semua tampak sama, hanya caranya saja yang berbeda.


Jangan menyerah untuk setiap keadaan, Tuhan tak menciptakanmu hanya untuk jadi lelucon dan perjalanan sejauh ini bukanlah cerita yang singkat.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!