Sumber

Rahvayana: Asmaradana



Prolog:
// Saat, aku terdiam sepi // Engkau, selalu hadir di dalam jiwa ini // Menatap mataku, menggenggam tanganku // Dan berkata: mari berjalan bersama-Ku //

Tulisan yang aku kompos ini, ketika ku senandungkan terkadang orang menganggap aku sedang kasmaran, Shinta. Apakah anggapan itu salah? Tentu tidak. Sebab dengan sengaja goresan komposanku itu ku balut lekat dengan gejolak api asmara.


Dan, sengaja aku bangun labirin, terowongan dan persimpangan dalam komposan itu supaya setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda ketika membacanya. Ya, meski kemungkinan akhirnya mereka akan sampai, berdiri serta berada di tempat yang sama.


Begitupula ketika aku melihatmu akan menyusuri lembah dandakaranya, kendati aku tahu bahwa hutan itu di huni oleh raksasa, belbagai lelembut dan hal-hal tak kasatmata lain. Aku memilih diam. 


Sikapku bukanlah sifat yang sengaja menjerumuskanmu dan seperti sedang menghukummu di sana, tetapi sebab aku tahu, bahwa engkau mampu melewati segala rintangan serta tantangan yang datang kepadamu, Shinta.


Bila aku berkata sejujurnya tentang keadaan di sana, sama saja aku sedang menakutimu dan mengejekmu karena engkau lemah. Meski caraku ini terdengar miris, namun engkau akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Begitulah aku merawat kobaran api yang menyala di tengah badai dan hujan yang menghantam.



Epilog:

// Cinta, yang penuh misteri // Cahayaku, penerangku, yang terangi jalanku // Cinta yang penuh dengan makna // Engkaulah alasanku mencinta //

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!