Sumber

Ki Demang & Murid-muridnya #28

Ada yang tiada.

Ketika berjalan pulang dari sekolah mereka masih tampak kagum dengan berbagai keinginan yang dapat di persatukan hingga membentuk satu gambaran utuh. Begitu dengan ayu yang dari awal memang kurang yakin penawaran gurunya tersebut, akan tetapi hari ini dia mendapat pelajaran baru dan luar biasa. Seakan bapak guru telah mematahkan keyakinannya.

Seperti biasa ketika mereka berangkat atau pulang sekolah selalu bersama-sama, melewati berbagai kesibukan yang dapat mereka lihat seperti jalanan ramai, pasar yang padat, pegunungan, hutan, sungai dan masih banyak lagi. Selama di perjalanan itu mereka mencoba menerapkan kacamata ilmu yang tadi mereka dapat di sekolah.

"Bud, pasarnya terlihat ramai ya tidak seperti biasanya?" Celoteh putri.

"Biasa saja menurutku, karena memang pasar seperti itu sih. Kadang ramai, kadang sepi, kadang-kadang pula ramai sekali, bahkan sepi sekali, iya kan made?"

"Iya aja deh, biar budi adem hatinya haha" Di sambut tawa putri dan ayu.

"Ngomong-ngomong apakah pasar juga bisa kita gambarkan seperti yang bapak guru tadi ajarkan kepada kita tidak ya?" Tanya putri lagi.

"Menurutku sih bisa put, karena di dalam dan sekitar pasar juga banyak pedagang, barang dagangan, transportasi yang lalu-lalang, aku ambil itu saja deh." Jawab made dengan semangat.

"Ehm, bukanya di pasar yang kita lihat sekarang ini sudah menjadi gambaran utuh ya?" Tukas ayu yang tidak mau kalah.

"Tidak tahu mengapa, aku setuju dengan jawaban made dan ayu." Budi menambahkan.

"Dua-duanya bud?" Putri bergegas menjawab.

"Iya betul, masih ingatkan? Tadi kamu ingin di gambarkan bunga-bunga yang indah, made ingin di gambarkan sungai, ayu ingin di gambarkan boneka, dan aku cukup ingin di gambarkan bentuk-bentuk benda saja. Kalau sudah aku rangkai sebagai contoh putri menjadi bunga-bunga yang berada di vasnya, sungai yang made sebutkan menjadi aquarium dan berbagai pernak-perniknya, boneka yang ayu sebutkan tetap menjadi boneka di tokonya, dan kepunyaanku meliputi berbagai benda dengan ciri dasar bangunan yang sudah aku sebutkan di sekolah, anggap saja kardus ya. Apakah sekarang di pasar tidak ada kesemuanya itu?" Budi mencoba memberikan gambaran yang dapat ia tangkap.

"Iya juga ya..." Jawab ayu sambil menoleh kepada putri.

"Yang merencanakan semua ini?" Tanya putri.

"Loh, kok malah perencanaan sih put?" Jawab ayu.

"Kan ini sudah menjadi kenyataan, bukan sebuah desain atau gambaran lagi?" Jawab putri.

"Betul, aku setuju dengan putri. Yang kita lihat di pasar dan sedari tadi kita berjalan sudah merupakan bentuk utuh pula. Tetapi kita sekarang sudah berbicara wujudnya, bukan lagi sebuah gambaran atau sejenisnya." Budi menambahkan.

"Itu berarti memang ada yang merencanakan. Karena tidak mungkin semua itu yang terdiri dari berbagai pedagang, barang dagangan, dll itu bisa sendiri tiba di situ" Putri masih ngotot dengan pemikirannya.

"Ya elah, gitu saja kok repot pada ngotot semua aku lihatin, pada pusing. Jelas-jelas ada dinas tata kelola, dinas pekerjaan umum, dinas-dinas lain yang mengurus. Haha" Guyonan made mencoba memecah pembicaraan yang semakin panas.

"Oke deh, terserah kamu lah made." Jawab putri kemudian dengan muka murung.

"Bagaimana jika dinas-dinas yang made sebutkan tadi adalah bentuk yang sama seperti pak guru bertanya kepada kita? Dan bapak guru yang menggagambar pula? Hanya saja di sini kan bapak guru yang tetap bertindak sebagai eksekutor." Balas budi kemudian.

"Ya iyalah budi, kan bapak guru hanya bikin gambar, hanya bikin desain, itu sama juga bila gambarnya dari bapak guru nanti di berikan kepada orang-orang yang dapat mewujudkan secara nyata." Sambung ayu.

"Iya memang begitu cara kerja dinas-dinas yang aku sebutkan di atas. Tapi benarkah bahwa dinas-dinas itu bekerja tanpa adanya campur tangan lain? Sebagai contoh yang di katakan budi tadi, kadang pasar sepi, kadang ramai, kadang ramai banget, kadang pula sepi banget. Apakah dinas-dinas itu juga mengatur masalah seperti ini?" Jelas made.

"Menurutku itu tidak mungkin, karena sesama dinas-dinas yang lain akan saling bekerja sama." Jawab budi.

"Akan tetapi apakah kita sadar? Bahwa ramai atau sepinya itu kadang di pengaruhi oleh banyak faktor? Sebagai contoh hari pasaran yang sering di terapkan?" Balas made kembali.

"Apakah yang kamu maksud seperti kemacetan di seberang jembatan dekat pasar itu made?" Putri bertanya.

"Iya betul, kemacetan itu sebenarnya terjadi pada jam-jam tertentu bukan? Tidak setiap hari dan setiap waktu macet? Akan macet hanya ketika pagi dan sore hari saja?" Balas made kepada putri.

"Lalu masalah pasar, made?" Balas putri kemudian.

"Ini juga sama dengan kemacetan itu tadi, semua tampak tidak teratur. Sama juga seperti pandangan kita terhadap pasar. Semua juga seperti tidak teratur. Ilmu dari bapak guru tadi juga menjelaskan bahwa gambaran-gambaran yang kita sebutkan tadi menurut pemahaman kita memang terlihat tidak teratur. Akan tetapi bapak guru dapat menggambarkannya menjadi gambaran yang sangat istimewa bukan?" Jelas made kembali.

"Mungkin maksud made adalah bahwa di pasar, di jalanan, atau bahkan di manapun itu sudah ada yang mengatur? Begitu bukan?. Lalu siapa yang dapat mengatur sedemikian rumitnya? Apakah manusia akan sanggup?" Budi menambahkan pertanyaan dari putri.

"Iya betul bud, menurutku memang begitu. Semua memang sudah ada yang mengatur. Dinas-dinas lain merupakan cara sang pengatur untuk mewujudkan harapannya menjadi nyata." Jawab made kembali.

Terlihat ayu dan putri tampak saling berbisik. Tidak lama mereka sama-sama terlihat riang dan gembira.

"Kita tau siapa yang mengatur itu..." Teriak ayu dan putri.

"Siapakah itu?" Sontak budi menjawab.

"Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang..." Jawab ayu dan putri dengan lantang di ikuti tawa dari made yang terlihat terpingkal-pingkal mendengar jawaban mereka berdua. Tidak hanya made, ternyata bebera orang di sekitar persawahan yang mereka lalui ikut pula tersenyum kecil melihat bocah-bocah yang sedang berjalan ini terlihat harmonis.

Dalam kesibukan kita, memang kadang menjadi lupa bahwa dalam hidup yang kita alami saat ini atau yang lalu dan yang akan datang tidak lepas dari sang pengatur seperti yang coba made ungkapkan. Kita terlalu sibuk bahwa besok akan makan apa, ketika besar akan sekolah di mana, akan bekerja di mana, siapakah jodoh kita, berapakah harta kekayaan kita, dll. Seakan-akan kita benar-benar telah lalai akan sesuatu yang ada tapi tidak dapat kita lihat dan rasakan dengan panca indera.

Mungkin jawaban ayu dan putri lah yang dapat mewakilinya, yang mana rumput tetap dapat hidup tanpa susah, tanpa senang, tetap diam di tempat tetapi dapat bergoyang seolah mereka selalu bersenang-senang dalam kesedihannya.


Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!