Sumber

Ki Demang & Murid-muridnya #23

"Lha iya, karakter orang itu macem2. Wong pernah ada orang tua dan anaknya ke sini mau nitipin anaknya tersebut. Kata orang tuanya anak ini nggak mau sekolah, kalau sekolah cuma pamit aja tapi ndak nyampai sekolahan. Jadi usut punya usut anak ini malah sekarang sering jualan di pasar."

"Heuheuheu. Ada2 aja, Ki."

"Begitu orang tuanya pulang saya tanya, apakah betul yang dikatakan orang tuamu? Ia mengangguk. Dan hari pertama dia disini, ndak tak suruh ngaji atau sekolah atau apapun. Tak biarkan biar kenal lingkungan sini, hari ke dua sampai seminggu sudah mulai kenal. Baru tak kasih tau, disini kan ramai? Kamu jualan aja di sekitar sini, kalau di sini menurutmu kurang bergairah, silakan keluar asal nanti pulang lagi dan ngehadap saya. Kamu dapat uang berapa."

"Waah, apakah ia ndak kaget, Ki?"

"Cukup kaget, ia kira disini bakal lebih keras lagi dari pada orang tuanya. Namun, hasil keringatnya patut di acungi jempol. Begitu hari2 berlalu, yang ia dapatkan sudah mentok dan segitu2 terus. Akhirnya saya tanya dan ia berkata sudah tak mendapatkan cara lagi untuk model jualannya. Lalu saya ngomong; memang benar kamu ndak sekolah, dulu kamu bosan dengan sekolah. Tapi dengan sekolah kamu setidaknya akan mempunyai ilmu dan materi untuk mengolah pasar. Kadang, materi memang tak sama dengan realita. Begitu juga realita kadang membutuhkan materi, karena disana ada ribuan jurnal dan penelitian yang bisa kamu baca, pelajari serta bahkan kamu bisa praktik langsung. Saat ini saya ndak akan nyuruh kamu buat kembali sekolah, saya cuma nunjukin kamu jalan yang setidaknya bisa kamu pertimbangkan. Kalau kamu rasa baik, lakukanlah. Kalau tidak ya bersyukurlah dengan apa yang bisa kamu dapatkan saat ini. Naah, seminggu kemudian saya lihat ia sekolah dan sorenya ia jualan, itupun hasilnya juga bisa sama dengan waktu ia penuh hari jualan. Heuheuheu." 


Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!