Sumber

Sisi: Realita

Aku?

Semua situasi pertemanan aku masuki tanpa sekat apapun di sana.

Seorang bertanya kepadaku, "Kenapa aku tidak dapat mendengar pengertian orang lain. Bahkan sering kali aku anggap itu bahan bercandaan?"


"Cukup sulit, tidak ada salahnya kamu mencoba. Tutuplah semua inderamu dari berbagai masukan orang lain, tutuplah juga semua tentang perkataan-perkataan baik untukmu dari orang lain."


"Kenapa kamu melakukan cara yang berbeda dengan mereka? Bahkan kamu tidak memberi aku kata-kata penyemangat atau bahkan kata bijak yang kamu anggap penting?"


"Tetap tenanglah, aku sudah mencoba keduanya. Aku lebih suka menemukan diriku dalam hatiku. Bila kamu menginginkan seperti mereka? Jangan harap akan sama. Tuhan memberimu sesuatu yang spesial dari dalam dirimu. Dan mereka para penyempurna kehidupan orang-orang telah menemukan sesuatu yang spesial tersebut. Kamu? Tidak akan pernah mempunyai hal yang sama dengan mereka, mungkin juga akan sama, tidak pasti"


"Kamu hanya cukup mengenal diri kamu, mendengar suara terkecil hatimu, percayalah Tuhan berada di sana. Kamu tidak perlu mencari di manapun. Tuhan selalu dekat denganmu, meski kau mencoba menjauh."


"Merenunglah dalam kesunyian pertiga malam terakhir setelah cukup kau istirahat, ini dulu juga sering aku lakukan. Apapun latar belakang dan dirimu saat ini. Semesta tetap akan menganggap mu sama dengan yang lain. Percayalah kawan. Pahit hidupmu jauh lebih bernilai juga bermakna dari pada seribu cerita yang tidak pernah kau lihat dengan kedua matamu sendiri."



Teks asli di publikasikan pada tanggal 13 Januari 2017.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!