Sumber

Sang Pengatur

Gambar: AI


Seberapa keras engkau menjemput rezeki, apabila itu bukan jatahmu, maka angan-anganmu hanyalah sebuah ilusi.

Rezeki berupa pendapatan misalnya, jika poin penilaian kerja seseorang tidak mencapai angka minimal delapan puluh untuk insentif. Tetap saja tambahan penghasilan tersebut hanya menjadi ilusi.


Selanjutnya, dalam sebuah perlombaan. Jika kita telat mengambil bagian tidak pada waktu yang du tentukan, sebagai contoh pukul 9.00 barangkali telat satu detik saja 9.00.01, sama saja hal tersebut tidak termasuk menjadi rezeki kita.


Selisih-selisih dan pemahaman-pemahaman tersebut tetaplah bisa di cerna dengan kesadaran akal manusia secara individu. Tetapi ada beberapa hal terkait rezeki yang tidak dapat di jangkau oleh akal manusia, misalnya: seseorang ingin berangkat kerja dan telah melakukan pengecekan kendaraan. Lalu dinyatakan prima. Ia juga mengendarai dengan kehati-hatian yang tinggi. Namun, diluar dugaan ia terkena benturan dari belakang. Ini adalah kondisi rezeki yang tidak dapat di cerna oleh akal manusia. Mengapa?


Semestinya keselamatan, kesehatan, kesempatan, dst merupakan sebuah rezeki. Setiap hari jutaan manusia diberikan rezeki untuk tetap bisa menghirup oksigen, membuka kedua mata dan memandang keindahan, berbicara, menyentuh, berjalan, dll. Termasuk keselamatan di perjalanan.


Seseorang dengan kondisi yang tidak pernah melakukan cek pada kendaraannya dan mengendarai dengan ugal-ugalan bukan tak mungkin mendapat rezeki keselamatan sampai tujuan. Meskipun orang seperti ini sangat tidak layak di contoh, tetapi kita dapat merenungkan bahwa rezeki di gerakkan oleh sesuatu di luar manusia.


Sebab bagaimanapun, rezeki tidak akan pernah meleset sedetik-pun, apabila rezeki tersebut memang untuk kita.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!