Ketika Duduk Bersama
Aku tertawakan akal dan logika cara berpikirku saat Tuhan bercerita kembali tentangku,
Aku dan Dia duduk sangat dekat,
Bahkan tidak ada jarak antara kita,
Aku dan Dia minum satu gelas kopi yang sama,
Dia berkata kepadaku "Oo hai, kenapa dulu kau sangat takut patah hati? Bukankah kau pernah berjanji mencintainya sampai mati?"
Tak kuasa aku menahan senyum di bibirku,
"Dan kau masih ingat, ketika kau hampir putus asa mencari lapangan pekerjaan? Aku lihat kau kehujanan basah kuyup, Aku yakin kau setengah putus asa. Bukankah itu benar?"
Hah, benar sekali kataku dalam hati,
"Lalu tanpa kau sadari Aku menolongmu? Ingatkah?"
Sudahlah, Engkau pasti tau dari tadi aku menahan tawa karena selalu mengkhawatirkan takdirku,
"Tidak apa, itulah dirimu yang lucu. Aku menyukainya...Sudah pasti jika Aku utus Izrail membawakan surat dari-Ku, kau pasti belum mau kembali. Tampak menggemaskan sekali."
Adakah cerita lain?
"Cerita lain adalah sewaktu kecil kau suka tidur menutup seluruh badanmu di balik selimut. Berharap tidak melihat setan gentayangan. Apakah kau pikir Aku berhenti menjagamu meskipun kau lelap dalam tidurmu? Sudahlah, kau teruskan imajinasimu. Kopinya Aku habiskan, dan kau buat lagi. Jika kau butuh Aku, ingatlah Aku. Senantiasa Aku hadir di sisihmu."
"Batu itu keras. Agar menjadi lembut, kita harus mengolahnya terlebih dahulu."
Teks asli di publikasikan pada tanggal 25 Juni 2018.
Gabung dalam percakapan