Ke-Maha Asyikan Tuhan Dalam Kehidupan Manusia
“Gimana ndak asyik, ternyata ndak ada Sholat malam yang wajib. Sangking-sangkingnya Tuhan paham kalau malam waktunya tidur, maka Sholat malam cukup Sunnah saja statusnya.
Gimana ndak asyik juga, Subuh juga bisa sebagai alarm untuk bangun lebih pagi menyiapkan bekal-bekal penjemput rejeki, coba kalau ndak ada Subuh, meskipun berangkat kerja jam 7 pagi, kebiasaan orang-orang adalah bangun jam 6.30. Sangking pahamnya Tuhan kalau di waktu pagi otak lebih encer, tubuh lebih fit, dll.
Gimana ndak asyik, ternyata waktu Dzuhur & Ashar adalah penanda dimana tubuh juga butuh istirahat saat lelah bekerja. Kerja dimanapun, kalau sudah mendekati dua waktu tersebut, pasti muka sudah minta di basuh, otak sudah minta di istirahatkan, perut sudah minta di isi, dll. Begitulah sangking pahamnya Tuhan terhadap setiap detail ciptaan-Nya termasuk kelemahannya.
Gimana ndak asyik, Maghrib juga waktunya tepat terbenamnya matahari. Ndak salah, ternyata waktu tersebut adalah jam sibuk di setiap jalan-jalan besar di kota-kota. Sudah lelah bekerja, jalanan macet, perut mulai lapar, ternyata Tuhan juga sudah menyiapkan tempat peristirahatan yang sangat tepat & cocok.
Gimana ndak asyik, Isya' adalah waktu yang paling dekat dengan Sholat wajib lain. Tuhan juga ngerti kalau sehabis Maghrib hamba-hamba-Nya masih lelah, pengen istirahat, pengen menikmati malam, pengen segera tidur, dll. Makanya Isya' di dekatkan ke Maghrib supaya jarak pendek tersebut ndak menghilangkan kemesraan seorang hamba kepada-Nya.
Bukankah Tuhan Maha Asyik? Masih ada lagi? Masih dong, wong Tuhan sudah bersabda meskipun lautan menjadi tinta, pengetahuan-Nya ndak akan habis. Apalagi cuma ngomongin ke-Maha Asyik-kan Nya.”
Teks asli di publikasikan pada tanggal 17 September 2019.
Gabung dalam percakapan