Jejakmu Dalam Do'aku, Selamat Jalan Adik Kecil
Sudah ya, Dek, ya.
Tenang dan tersenyum kembali di tempat yang indah sana. Kamu tuh cantik, loh, tidak kalah dengan Kakakmu yang keras kepala ini. Bukannya sekarang di sana juga dekat dengan Yang Maha Cantik, Yang Maha Indah? Harus tersenyum, harus bahagia, dong.
Baiklah, saat ini, tanpa kamu minta, aku ikutkan ke do'a harianku, ya? Kamu ini cemburu sama Kakakmu atau gimana, sih? Ya ngomong, jangan diam saja. Kalau diam kan ya aku itu nggak tau. Sudah tau namaku, kan? Apa mau kenalan dulu? Apa mau pura-pura kenal aja, seperti Kakakmu yang gengsinya segede gaban, kalau dibilang gengsi tidak mau. Bilangnya jaga citra diri. Heleh, sama saja, to? Yaa, terserah kamu, lah, mau tau beneran atau pura-pura tahu. Kalau sudah tahu, panggil saja aku. Asal jangan ngagetin, aku kagetan soalnya.
Sebelumnya, maafkan aku ya, Dek, ya.
Tau sendiri kan, hidupku sangat berantakan dan amburadul. Tambah banyak yang harus di selesaikan, pun tambah rumit. Jadi ya tidak bisa 100% menemani Kakakmu yang sering jual mahal itu. Karena kamu dekat dengan Yang Maha Pemberi, Maha Pengasih, Maha Penolong, mbok ya aku titip juga, di sampaikan, segera perbaiki nasibku, Dek.
Eh, tapi kadang-kadang aku mikir, kamu itu datang buat ngelarang aku atau gimana, sih? Kalau iya, ya gak papa juga. Tidak usah khawatir, aku bisa balik kanan, kok. Tidak usah bawa cermin juga, Dek. Apalagi cermin Kakakmu itu, yang bahkan lebih banyak dan lebih tahu detail cermin itu tentang wajah Kakakmu dibanding kedua mataku.
Selain itu, apakah kita sebelumnya pernah berjumpa? Aku seperti tidak asing loh dengan wajahmu itu? Tetapi di mana ya? Wong ya kamu ini jauh di bawahku. Tapi rasanya aku pernah bertatapan denganmu, ya? Atau karena aku sudah berumur dan jadi pelupa? Kakakmu tidak percaya loh aku ngomong begini, gimana coba? Kalau kamu ingat, coba kasih tahu aku juga. Aku juga penasaran soal wajahmu yang tidak asing ini.
Terakhir, terima kasih ya, Dek. Sudah hadir dalam kehidupanku. Yaa, yang aku bisa beri begini, kalau kurang ya ini dari aku sendiri yang kurang paham. Kalau ada kebaikan, ya itu datangnya dari Allah, yang ada di dekatmu. Aku cuma abdi saja, di suruh ke sini manut, di suruh ke sana ya manut. Di suruh bertemu Kakakmu yaa, manut saja. Meski ternyata lebih menguras air mata. Do'akan Kakakmu juga ya, Dek, ya. Kakakmu itu selalu kangen sama kamu, loh. Tau nggak? Tapi jangan ngajak Kakakmu dulu, masih banyak hal juga yang harus di selesaikan sama Kakakmu. Meski dunia ini sementara, kan? Tapi Kakakmu ini bandel buat menyadari bahwa dunia ini tuh banyak keindahan-keindahan. Dia tuh lebih suka masa lalu dan kapok dengan masa depan. Coba, lah, kapan-kapan lihatin bahwa Allah tuh Maha Indah, Maha Penyempurna, Maha Sempurna. Biar gairah hidupnya terus menyala.
Ya sudah, gitu aja, sih.
Selamat jalan ya, Dek. Kembali dengan tenang dan sampai jumpa suatu saat nanti.

Gabung dalam percakapan