Sumber

Hana Hurip Wening Suci



Beberapa tahun silam aku penasaran mengenai cara berinteraksi satu sama lain di dusunku. Di sebabkan karena semenjak kecil aku hidup di perkotaan, keramaian, dan sekitar pusat pendidikan. Meskipun aku tidak pernah tau lingkup-lingkup tersebut, yang tentunya memiliki kultur dan budaya yang berbeda.

Sesuatu yang membuat penasaran adalah ucapan "Ha" di awal kata, semisal : Ha nggeh, di beberapa daerah hanya di ucapkan nggeh saja. Atau dalam bahasa indonesia berarti "Iya". Contoh lain : Ha niko, ha niki, ha niku...dst. Pokoknya semua berawalan "Ha". Sampai-sampai kata-kata umpatan juga terselip huruf tersebut. Sebagai contoh : Ha hewul (Biarin), Ha jotek (tidak mau), Ha sikak (aku gak tau ini apa) dll.

Baru aku menemukan titik cerah, yang mungkin saja berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi selama itu cocok dan bermuatan positif tentu aku akan selalu bawa. Dan tulisanku ini bermaksud sebagai bahan tambahan wawasan. Kebenaran hanya milik Sang Hyang Hurip, Dzat kehidupan, Gusti, Tuhan, Allah.

"Ha" tersebut secara etimologi mungkin berasal dari abjad jawa yang secara turun temurun di gunakan oleh masyarakat setempat. Karena pada dasarnya abjad jawa tidak mengenal huruf vokal "A" yang berdiri sendiri. Jadi jika kita akan menulis "Aku" maka akan menjadi "Haku", dst. Dari setulah kemudian menjadi sebuah ciri khas tertentu yang di gunakan secara terus menerus dan turun temurun.

Jika kita telaah lebih dalam ternyata "Ha" tersebut mempunyai makna yang sangat esensial. Menurutku sebagaimana huruf "Alif" dalam abjad arab. Satu kutipan menurut "Syaikh Ibn al-‘Arabi, Alif melambangkan keheningan, karena itu sifatnya ‘diam’. Jika kamu tetap diam, semuanya akan dipandu oleh-Nya dan jika kamu berbicara, segalanya akan tersesat. Lampaui dan kamu akan menemukannya." Sedangkan "Ha" menurut catatan sejarah jawa bermakna "Hana hurip wening suci" (Adanya hidup
adalah kehendak yang Maha Suci). Dari situlah aku tarik makna bahwa bisa saja semua yang di ucapkan oleh seorang tokoh (manusia) yang menggunakan awalan "Ha" adalah termasuk bentuk kehendak Sang Maha Suci atau secara eksplisit tokoh (manusia) tersebut merendahkan dirinya (pasrah), bahwa ia sebenarnya tidak dapat berbuat apapun tanpa kehendak-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawabi, hanyalah Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati.

Rahayu.

Teks asli di publikasikan pada tanggal 12 Juli 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!