Aku Masih Seperti Yang Dulu
Aku masih seperti yang dulu, Kekasih.
Orang yang merasa tidak enak kalau segala pintaku kepada Tuhan lekas di kabulkan. Malah aku jadi curiga sama Tuhan dan berkaca-kaca ke diriku sendiri. Aku pasti punya salah sehingga pintaku segera terkabul. Lha kenapa? Tau sendirilah, aku orang baik ya bukan, orang bener apalagi, jelas bukan. Hidup amburadul dan berantakan. Kalau cepat terkabul, jangan-jangan Tuhan udah malas mendengarkan suaraku, sudah bosan melihat diriku, dst, Kekasih.
Tetapi, jika pintaku lama terkabul, aku lagi-lagi juga berkaca-kaca ke diriku sendiri, Kekasih. Salah apakah aku sehingga pintaku kepada Tuhan tak lekas dikabulkan? Harus meminta ke mana lagi? Harus bersujud kepada siapa lagi? Padahal, tidak ada tempat dan satu-satunya tempat ya kepada Tuhan sendiri. Gelisah sangat menyelimuti kalbu yang pilu di saat seperti ini.
Aku ya masih seperti yang dulu, Kekasih.
Soal pinta meminta, dari pada Tuhan mendahulukan pintaku. Aku lebih suka kalau Tuhan mendahulukan pinta-pinta orang-orang dekatku, Kekasih. Bukan karena aku tak butuh, tetapi lebih karena di saat aku butuh mereka ada untukku. Tetapi di saat mereka membutuhkan, aku tak bisa gantian ada di sana. Jadi dengan Tuhan-lah aku merayu supaya orang-orang sekelilingku selalu di dahulukan, di prioritaskan. Aku? Aslinya pintaku tidak di kabulkan Tuhan gak apa-apa, asalkan selalu di sini, di hati ini, dalam rindu ini, dalam sukmaku yang menjadikanku terus berbunga-bunga.
Banyak orang mengatakan cara berpikirku aneh, Kekasih. Jadi beginilah jalan pikiranku. Salah satu kekuranganku dalam hidup yang harus engkau tau saat ingin menemani sisa perjalananku.

Gabung dalam percakapan