Rahvayana: Jejak Tuhan Dalam Estetika Perempuan
Suara itu menjadi nada-nada pertanyaan...
Kenapa setiap perempuan tidak dapat di ajak berpikir kritis?
Mengapa mereka selalu memperbincangkan hal-hal konyol seperti film, drama, kehidupan kelak dengan suami, dll?
Atau sesuatu yang terlalu imajinatif?
Terdiam aku di sudut bangunan tua, setiap kata yang aku tulis, aku membuangnya dan berulang-ulang. Ingin berteriak di hadapan mereka, tapi tidak. Aku tetap diam dan melihat kelanjutan apa yang mereka bincangkan. Dalam hati, aku selalu percaya "Perempuan adalah sesuatu yang di ciptakan Tuhan dengan estetika tersendiri." Atau secara kasar aku berkata ; Jika ingin mengenal Tuhan, kenalilah kekasihmu sendiri.
Mungkin aku dapat setuju dengan berbagai hasil uji coba, jajak pendapat dan sejenisnya yang sedang mereka tertawakan mengenai sikap perempuan. Dalam kesetujuan itu masih membekas sebiji sawi kata 'tidak setuju' dan aku menyimpannya dalam-dalam. Agar mereka tetap tidak tahu tentang apa yang aku pikirkan.
Apa yang aku tangkap selama ini Tuhan tidak selalu mengajarkan sesuatu apapun secara langsung dan detail. Tapi Dia sengaja membungkusnya dengan hijab yang tidak dapat langsung di cerna oleh panca indra. Tentunya agar kita dapat berpikir kritis untuknya, rahasia itu.
Faktanya jika tidak ada perempuan, bisa jadi pusat mode dunia-pun juga tidak ada. Kamu benar, aku tidak akan sekeras pemikiranmu menghajar mereka dengan memaparkan siti hawa secara langsung. Masakan, bahasa, seni dan arsitek adalah cabang dari mode. Lebih-lebih mode dan politik-pun tetap ada benang merahnya, seperti saat soekarno berjanji kepada dirinya 'Jika aku tidak di izinkan bersama putrimu, mungkin suatu saat nanti kamu akan aku usir dari wilayahku.'
Sama saat kamu pergi dari rumah, banyak masakan yang rasanya jauh lebih lezat dari pada masakan kampung. Tapi kenapa kamu selalu berkata 'Aku rindu masakan ibu?' bukankah ibu memasak hanya dengan imajinasi dan cinta saja?
Saat kamu tumbuh dewasa. Pikiranmu tidak dapat mencerna apa yang di katakan oleh pasanganmu 'Biarkan aku di sini sendiri, pergilah kamu dariku. Aku sedang ingin sendiri, biarkan air mataku jatuh mengalir mengisi rongga-rongga tanah' se-kritis apapun cara berpikirmu, tidak akan pernah sampai menemui jawaban yang tepat dengan pernyataan dan pertanyaan itu bukan?
Kamu melihatnya seperti sebuah benang yang tidak beraturan dari pancaran mata perempuan. Seperti selalu banyak 'ngomong' dan bahasan-bahasan tidak penting yang kamu katakan di atas. Soal warna tas, sepatu, topi, bando, lain sebagainya. Soal tempat rekreasi, film-film menarik atau hingga warna cat kuku yang mana kukumu sendiri jarang kamu perhatikan. Tapi semua tentang seni, tentang estetika yang memancar dari hatinya. Kamu pikir kritis hanya untuk sesuatu yang kamu pikirkan saja? Jika aku jujur, seseorang yang benar-benar aku anggap arsitek dalam hidup ini jelas perempuan. Bukan lelaki. Saat kamu sudah beristri, mungkin satu minggu di tinggal istri pergi ke rumah mertua dan kamu tinggal sendiri bersama anak-anakmu, kamu akan mengetahui apa yang ingin aku katakan. Tapi tidak akan aku tuliskan di sini, sengaja aku membiarkan kamu berpikir dan jauh melesat jika kamu saat ini masih seorang bujangan. Agar kamu mengetahui sebuah rahasia. Seperti saat Tuhan berfirman 'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan'. Dia tidak menyuruh kaum lelaki atau perempuan saja, tapi keduanya. Dan jika Tuhan tidak merasa iba melihat adam termenung sendirian di surga, mungkin juga tidak akan pernah ada makhluk yang bernama hawa serta perempuan lain.
"Jika kamu ingin mengenal Tuhan, kenalilah kekasihmu sendiri. Kekasih."
Selesai.
Terimakasih untukmu sudah membaca hingga akhir. Yang tidak akan pernah berakhir.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 23 Juni 2018.
Gabung dalam percakapan