Setapak Jejak Sendal
Waaah, aku seharusnya senang, ya, Gong, Truk ma Gareng. Gimana ndak senang, ternyata di rumah dan di tempat kerjaku, masyarakat yang ke masjid sudah mengamalkan dawuhnya Pak Yai.
Ini ya beda ma aku to ya, yang ngaji aja ndak pernah dan ndak bisa. Cuma bisa karena sering lihat tulisan-tulisan di bokong truk.
Jum'at siang hari lalu, sendalku hilang lagi, masih sama tergolong baru. Beberapa bulan kemarin juga sendalku yang kalau buat beli ini, mungkin dapat 7 kali ya, ilang. Setelah hilang, aku beli beberapa sendal jepit dengan beberapa tujuan juga. Ya itu, yang satunya hilang siang ini.
Tapi tak apa, Tuhan Maha Guyon.
Artinya ada yang lebih butuh dari aku dan mungkin ini cara Tuhan mengingatkanku agar kurang-kurangi sambat. Apa yang aku punyai saat ini sebenarnya sudah lebih dari cukup, lha wong, nyatanya sendal saja hilang, berarti masih ada yang lebih membutuhkan.

Gabung dalam percakapan